Selasa, 31 Mei 2011

Novel Pembangun Jiwa


Habiburrahman El Shirazy, Bumi Cinta
( Jakarta : Basmala : 2010 ) 246 Halaman)

                                                                                                                                       
Cerita novel ini barawal dari perjalanan seorang mahasiswa Indonesia di Kota Katredal, Moskwa, Rusia. Dia bernama Muhammad Ayyas, datang untuk melakukan riset tesisnya di Universitas Negri Moskwa atau Moskovskyj Gosudarstvenyj Universiteitimeni Lomonosova (MGU). Sebelumnya ia selesaikan S-1 di Madinah dan S-2 nya ditempuh di India. 

Selain menampilkan sisi keindahan Moskwa dalam  musim saljunya, bangunan-bangunan megah dan sekelumit sejarahnya, penulis juga menyoroti sisi kehidupan masyarakat Moskwa. Disebutkan di halaman 20 bahwa, Santri salaf  (Ayyas) ini hidup di negeri yang demikian jauh dengan negeri yang ia tinggali sebelumnya. Negeri kali ini adalah negeri paling menjunjung tinggi seks bebas dan pornografi. Keimanan dan kehoormatannya dipertaruhkan demi memenuhi hasrat duniawi nonik-nonik muda Moskwa, yang kecantikannya tiada tara. Yelenna, Linor, Anastia Palazzo adalah godaan berat yang ia hadapi. Devid, teman SMP nya dulu, yang sekarang  mahasiswa di salah satu Universitas di St Pitsburg adalah satu-satunya orang yang ia kenal dengan baik di Moskwa. Dan Devid pun ia rasakan sudah tidak lagi sebagai Devid layaknya orang Jawa yang penuh menjaga etika ketimuran. Devid sudah tidak lagi melihat aturan agama dalam pergaulannya dengan lawan jenis. Ini berdasarkan ceritanya yang hidup satu rumah dengan Eva Telyantikova, orang Rusia yang ia kenal dulu waktu kuliah di Singapura tanpa ikatan perkawinan. Meski pada akhirnya Eva meninggalkan Devid dan sekarang Eva hidup dengan lelaki Polandia.

Hal yang menakjubkan adalah penuturan penulis yang seakan menghafal semua detail tempat , keadaan, suasana bahkan sampai peristiwa sejarah yang demikian lengkap disebutkan. Sehingga membuat pembaca seakan benar-benar merasakan suasana disana. Jadi cerita lebih hidup dan ini benar-benar wisata gratis yang disuguhkan penulis.

Novel ini tersirat adanya lampu hijau untuk semua pembaca, terutama mahasiswa yang memiliki niat untuk belajar di sana maupun di Negara luar lain, terutama di Eropa yang rentan dengan godaan-dodaan keimanan seperti yang dialami Ayyas. Bahkan Devid pun yang dulunya religious, menjadi jauh dari ajaran agama.

Bukan hanya itu, bagian yang menyebutkan adanya agen yang secara sengaja melakukan kejahatan dan dampak kesalahannya ditujukan kepada orang muslim. Sedikitpun tidak ada rasa kemanusiaan, melimpahkan kesalahan pada orang yang sama sekali tidak mengetahui akan hal ikhwal kejadian yang terjadi. Sungguh, itu merupakan kondisi yang perlu diwaspadai. Bukan hanya menyangkut pribadi saja, tetapi agama islam lah yang dijadikan kambing hitam. Pertanyaannya, apakah selama ini tudingan-tudingan yang ditujukan pada orang islam seperti pengeboman yang belum lama ini menggemparkan dunia, itu karena fitnah yang mereka lontarkan ?

Cerita yang sistematis demikian menarik dan memberikan keinginan pembaca untuk segera mengetahui ending. Halaman yang demikian tebal bukan halangan bagi pecinta novel. Bahkan saya sendiri masih juga ketagihan untuk membaca lanjutan kisah mereka. Meski belum tahu apa akan dilanjutkan si penulis atau dibiarkan berakhir semu seperti akhir kisah yang dituliskan dalam novel.

Pelajaran penting mengenai ke-Tuhanan dan bagaimana agama Islam itu sendiri Nampak gamblang diceritakan penulis. Bahkan pembuktian-pembuktian ayat-ayat Al Qur’an oleh para pakar ilmu pengetahuan juga tidak lepas dari perhatian penulis. Ini menjadikan lebih yakin bagi umat islam dalam mengimani adanya Allah dan menjalankan semua ajaranNya.

Satu hal lain yang perlu direnungkan, novel ini memberikan contoh bagaimana Ayyas menghadapi godaan-godaan yang merangsang libidonya. Kedekatan dengan orang-orang berilmu, dekat dengan Allah juga amalan-amalan salat, dzikir, sampai pergaulan Ayyas dengan nonik-nonik Rusia itu drmikian terjaga. Bahkan terkadang disebutkan bahwa, Ayyas menjaga pandangan matanya jiika menghadapi mereka.

Meskipun penyajian buku ini berhasil menarik perhatian pecinta novel, ternyata masih ditemukan kekurangan yang mungkin tidak patut disebutkan ketika awal cerita demikian Nampak religinya dan berakhir kurang baik jika dikatakan novel pembangun jiwa. Ini berdasarkan rangkaian huruf yang dituliskan, bahwa Sofia tertembak dan Ayyas meraih tubuhnya dan meletakan di pangkuannya. Ayyas meraba nadinya, meletakan tangan didepan hidung sofia, juga membopong Sofia ke mobil perempuan setengah baya. Mungkin saja ini merupakan bagian genting dan darurat, tapi bagaimana kondisi darurat seperti ini dikemas lebih islami. Meskipun novel ini ditujukan untuk umum, bukan hanya untuk orang islam saja.

Terlepas dari kekurangannya, novel ini patut dibaca dan ini merupakan karya luar biasa yang pernah ada. Benar-benar novel masa kini yang harus dibaca, terutama oleh orang-orang muslim. Bagaimana nantinya setelah membaca, menjadikan kita berislam lebih kaffah (menyeluruh) dan mememaknai cinta yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar