Sabtu, 06 Agustus 2011

Otak Mahasiswa



Siapa yang  tahu makanan khas dari berbagai belahan bumi  Indonesia ?. Yup !!. Lumpia dari semarang, Gudeg dari Yogyakarta, Dodol dan Peuyeum dari Bandung, Coto dari Makasar, Dodol Tape dari Bumiayu, Tempe Kemul dari Wonosobo, Dawet Ayu dari Banjarnegara, Ondol dari Purbalingga, Gethuk dari Sokaraja, apa lagi ya ?. Ah, kamu lebih tau. Itu sih menu lama, bagaimana dengan sekarang ?. Banyak lho menu baru kreasi para pengusaha kuliner untuk menggaet pelanggannya. Dari istilah yang kurang beken sampe yang terkeren. Pernah dengar Jamur Kriuk, Lumpia Bom, Ayam kremes, Bakso Pekih, Bakso Candi?. Wah, Rugi deh kalau belum pernah nyicip. Nggak wajib sih...tapi kudu...!!! (Hehe...sama aja dong.).  
            Berbicara makanan,  jadi ingat koki beken asal Surabaya. Rudi Choirudin (46). Ikhwan ganteng yang karib dengan dapur. Memasak itu memang  nggak cuma keahlian akhwat ya, ikhwan pun bisa. Ada nggak ya ikhwan yang seperti dia ? Sekarang kan banyak tuh, akhwat yang kerja. Paling nggak urusan dapur sudah ada yang hendel (Hehe...). Pernah nonton acara masak-memasak di Indosiar? Tahu Ibu Siska Suwitomo kan? Koki yang nggak kalah hebatnya dengan Rudi. Meramu bumbu lokal sedemikian rupa dan menyulapnya menjadi hidangan lezat yang mak nyusss... Kalau ada yang tanya, siapa generasi yang akan mewarisi ilmu mereka? Minimal punya hobi yang sama seperti mereka. Eh, bukan sekedar hobi dink, tapi mampu menambah income keluarga atau untuk biaya registrasi misalnya. Wah... ada nggak ya sosok demikian di kampus kita? Ada dong, pengen tau siapa dia? Simak yuh !
            Hiruk-pikuk kegiatan perkuliahan sudah dimulai. Saatnya bangun dari tidur panjang liburan. Aktifitas akan berjalan normal, dari tugas dosen yang beragam, kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang mulai aktif kembali, juga aktivitas lain di luar kampus. Waktu seakan bangkit dan mengejar, hari pun terasa pendek. Tinggalkan kemalasan, prioritaskan waktu seoptimal mungkin, jaga kesehatan. Itu yang dilakukan oleh Ismey Nur Anggaraeni. Mahasiswa STAIN Jurusan Tarbiyah, Prodi PAI. Semester tujuh.
            Disela-sela kuliah juga pengajuan proposal untuk siapkan skripsi, masih sempat tengokin dapur dan segala tetek bengeknya. Memang ya... kalau sudah hobi, nggak ada alasan untuk meninggalkannya. Begitu dengan Ismey, lain lagi dengan Mukhlas, mahasiswa KI (Kependidikan Islam apa Kedokteran Islam?) Dia supplier, distributor, pedagang, dari berbagai jenis makanan ringan seperti lontong, bakwan, mendoan, goreng pisang, goreng tahu (brontak, bahasa mbanyumase),  gado-gado, air mineral, teh manis, juga kopi. Tiap hari sabtu sore dan minggu siang, dia akan terlihat bersama rekannya, Siti Nur Kholifah (5PBA) berjualan di kampus. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti jam kuliah malam, pasti nggak asing lagi dengan mereka.    
Jika ditanya, mau nggak berjualan seperti mereka? Pasti ada yang jawab, “Gengsi lah yaw”, atau ”nggak banget”. Beda dengan mereka, “Dengan berjualan seperti ini, kita jadi tahu kalau mengumpulkan keping-keping rupiah itu nggak mudah.” Wow, tulusnya. Bagi pemula mungkin malu, menawarkan, menunggui, yang sebelumnya harus memasak, meracik juga belanja di pasar, belum lagi harus bangun lebih awal. Pokoknya serentetan proses yang mesti dilalui. Bergelut di dapur sedari bangku kuliah ?! Why not !!!. Koki Rudy aja mulai dari bangku sekolah dasar.    
Hidup itu pilihan. Ketika dikejar kebutuhan, Mahasiswa kreatif (kreatif apa kere lan aktif ) akan menyulap segala sesuatu menjadi uang. Bisa dibilang berjualan karena MOP alias Master of Kepepet pun dijalani. Tuhan juga berfirman yang intinya, tidak akan merubah keadaan seseorang sebelum mereka berusaha untuk beranjak meninggalkan keadaan sebelumnya untuk menjadi lebih baik. Jadi nggak ada harapan terwujud secara instan. Semua butuh proses, dari yang tersukar sampai termudah sekalipun.
Pernah kepikiran nggak sih, menghasilkan uang sendiri minimal untuk kebutuhan domestic pribadi, seperti beli make-up, parfume, lotion de el el. Yeah, meski setiap proposal yang kita ajukan pada orang tua pasti di ACC. Muncul rasa kasihan juga kalau sampai keterusan. Tanggung jawab di pundak mereka juga nggak cuma kita saja. Uang memang bukan segalanya tapi tanpa uang, apa daya kita.
Perlu diingat kalau jatuh bangun adalah fitrah dari perjuangan. Ketika terasa lelah, tak berdaya dan usaha seakan sia-sia, Tuhan tahu betapa keras kita berusaha. Ketika menangis, Tuhan sudah menghitung air mata kita, peluh pun menjadi saksi. Amanah adalah konsekuensi dari tekad. Kita adalah bagian dari dakwah. Ada yang tegar dan ada yang terlempar. Hanya ada satu kata, “kita tidak akan berhenti berjuang!!!” Lantunan indah penuh makna, kobarkan semangat di dada.

Paper Usang



Sedikit sangsi untuk menulis ketika melihat tema yang disuguhkan, “Mahasiswa dan Integritas Kepemimpinan Nasional”. Mencerna makna “Integritas[1]” dalam kamus ilmiah menjadikan suatu langkah tersendiri. Dari sini penulis sadar akan apatisnya[2] diri ini terhadap istilah-istilah popular. Bahkan istilah dalam dunia perpolitikan sendiri. Seperti kata “skandal”[3] yang muncul belum lama ini. Kemudian disusul dengan istilah “Testimoni”[4], “Intervensi”[5] dan istilah baru lain yang memaksa memory otak untuk menyimpan kosakata-kosakata itu. Terkadang ini menjadi skeptis[6] jika dihadapkan pada realita kehidupan yang keras dan harus dijalani.
Terlepas dari itu semua satu yang menjadikan keresahan ketika dihadapkan pada kenyataan hidup di masyarakat, bahwa “Mahasiswa adalah manusia sempurna yang bisa segalanya”. Meski label kehormatan yang disandangkan ini tidak mampu terpenuhi seutuhnya oleh kaum intelektual muda bergelar Mahasiswa. Hingga memunculkan anggapan bahwa mahasiswa dengan gagasan-gagasan birilian pun bisa dihitung dengan jari, apa lagi dengan mereka yang diebut aktifis. Hanya segelintir orang saja. Dari sini, pertanyaan pun muncul, apa orang-orang yang turun ke jalan, yang masih peduli untuk menyuarakan jeritan masyarakat terhadap pemimpin-pemimpin negeri ini juga sedikit ? Apa hanya mereka saja yang berkoar-koar di luar sana bersama segerombol manusia dengan menunjukan papan bertuliskan tuntutan-tuntutan yang ingin dipenuhi pemerintah? Apa hanya itu yang mampu melunakan hati pemerintah hingga menjadikan mereka turun tangan selesaikan permasalahan ?
Terlalu kompleks permasalahan yang dihadapi Bangsa ini. Kasus korupsi yang tak berujung, Pembantaian masal masa lalu, Penghilangan tokoh pada orde baru, Kasus Trisakti, HAM, TKI (Tenaga Kerja Indonesia), bahkan sampai tuntutan kenaikan gaji Presiden pun menjadi sorotan. Seakan semua yang menjadi pusat perhatian hanya masalah-masalah itu dan cenderung bombastis[7]. Penyelesaian pun tak terdeteksi sampai mana, bahkan kasus-kasus baru saling susul-menyusul menutupi kasus lama yang makin tenggelam dari sorotan masyarakat.
 ALNI ( Alangkah Lucunya Negeri Ini) representasi pemberdayaan anak-anak pengamen muncul dengan lakon yang unik gambaran realita kehidupan kota. Film pendek yang menyoroti kehidupan karyawan pabrik sampai eksploitasi bumi pertiwi ini pun ditampilkan.
Satu yang belum terjamah oleh mata kita, durasi mini waduk Wadas Lintang di Wonosobo, Gambar tenggelamnya kaum tani. Hamparan sawah ladang, samudra hijau kehidupan. Pepohonan sang penjaga mata air, air yang mengalir dalam jiwa, alam penjaga keseimbangan. Dalam kehidupan apapun mereka nikmati secukupnya. Menanam, merawat dan menjaga kehidupan. Bulir-bulir padi harapan beranak pinak menjadi lumbung pangan mereka. Hingga pada tahun 1983 datang jaminan yang mereka pun tak paham. Mereka diusir. Nasib mereka ditentukan harga jualnya, Rp 125-Rp 675 per-meter tanah. Kemudian Wadas lintang menjadi bendungan, pembangunan namanya. Air bah membanjir, tanah rumah dan nisan sanak saudara tak lagi nampak, terkubur nan jauh di dasar air bendungan. Anak cucu mereka merantau ke kota, menjadi buruh, pedagang asongan, transmigrasi, bahkan memilih tetap tinggal di bukit terjal nan cadas pun harus siap dengan segala resiko. Di tengah limpahan air yang mereka minum sisanya hasil berebut dengan pinus-pinus perhutani dan terpaksa bekerja sebagai buruh perhutani. Merawat tanah dan tanaman yang tak pernah mereka miliki. Pembangkit listrik hanya untuk industri, tak menyisakan terang bagi mereka. Soal sekolah, SD pun menjadi keberuntungan, ke SMP susah transportasinya, hidup petani yang seakan dipermainkan. Siapa yang mesti mengurus rakyat seperti mereka ? Apa yang harus mereka lakukan? Siapa yang dapat ikut perjuangkan nasib mereka?
Mahasiswa sebagai tumpuan perubahan penentu arah kemana negri ini akan bermuara menjadi harapan besar ibu pertiwi. Kampus, kawah candra dimuka merupakan wahana berproses yang akan membuka mata hati kita. Menatap bagian kecil kelompok manusia dengan segal problema hingga masalah besar yang dihadapi negeri ini. Orientasi bukan sekedar mengais rejeki atau sebagai karyawan setelah usai belajar, melainkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, Negara dan agama. RidhaNya senantiasa turut menyertai langkah  kaki susuri aral yang melintang.
…Fastabiqul khairat…


[1] Integritas : kesempurnaan, kesatuan, keperpaduan, ketulusan hati, kejujuran, tak tersuap.
[2] Apatis : cuek
[3] Skandal : Perkara yang memalukan, perbuatan tercela
[4] Testimony : keterangan, kesaksian
[5] Intervensi : campur tangan
[6] Skeptis : ragu-ragu, sangsi
[7] Bombastis : omong kosong, bualan semata

Rabu, 03 Agustus 2011

Pendekatan Teologis Anti Korupsi



Seperti apa Indonesia saat ini merupakan cetakan dari pelaku kehidupan tempo dulu. Ini tidak akan terlepas dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa dilihat dari seperti apa pola asuh, pola pendidikan juga lingkungan keluarga yang mencetak seorang pribadi. Sedangkan faktor eksternal berupa lingkungan tempat tinggal termasuk kondisi sosial yang terjadi pada para pengisi roda kehidupan di Negara ini.
Jika berbicara moral tentulah banyak permasalahan pelik yang tersandung. Moral atau dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai ajaran mengenai sikap atau tindakan yang dinilai baik maupun buruk. Katakanlah korupsi, yang beberapa tahun ini melambung gaungnya. Muhammad Nazarudin sebagai tokoh yang senantiasa dikejar pun tak jua tertangkap yang sebelumnya ada Jayus sang mafia pajak. Beberapa menyandang komplikasi hukum yang belum jua mendapat penyelesaian yang tuntas. Lantas pada siapakah semua ini disalahkan? KPK, Presiden, pejabat pemerintah, penindak hukum, pelaku, orang tua, pendidikan, lingkungan atau pelaku sendiri?
Persoalan korupsi di Negara ini adalah bukti tidak mapannya dunia pendidikan. Artinya, orang yang bergelar professor, doctor dan gelar tinggi pendidikan pun tidak lepas dari jeratan korupsi. Pendidikan belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencegahan korupsi yang dilakukan alumni pendidikan sendiri. Ternyata institusi pendidikan melahirkan koruptor kelas kakap. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak uang rakyat yang diselewengkan.
Pendidikan agama anti korupsi adalah wahana latihan pengembangan pendidikan berbasis agama yang mampu mmenjawab realitas sosial. Artinya korupsi sekarang ini sudah saatnya dijawab dengan pendekatan teologis. Pendekatan yang dimaksud disini adalah perbuatan yang melanggar norma-norma agama yang sebagaimana tertulis di dalam teks suci.
Ambil contoh dalam agama islam, korupsi adalah perbuatan tercela dan merugikan orang banyak. Kalau menggunakan pendekatan hukum pidana islam, seorang pencuri harus dipotong tangannya. Ini berdasarkan ayat suci yang menyatakan bahwa, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya sebagai  pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah” (Q.S. Al Maidah : 38)
Perilaku korupsi yang tidak hanya menyusahkan orang banyak, membuat pelakunya berhasil menumpuk harta kekayaan dan mendewakan bahkan menjadikan “Tuhan” baru. Artinya mencari kekayaan dengan mengorupsi uang rakyat sama dengan perilaku “muja”. (Sindhunata, kompas, 7/12). Perilaku ini adalah mencari kekayaan dengan cara tidak halal dan ceberung menghasilkan segala cara seperti membodohi sebagian orang, membunuh keluarga atau orang lain demi mendapatkan kekayaan.
Dari kondisi seperti itu, dapat diambil sebuah ijtihad hukum bahwa seorang koruptor wajib dihukum pancung. Hal ini didasarkan kepada pencuri yang dipotong tangannya karena telah merugikan banyak orang dan menyekutukan Tuhan.
Pendidikan agama antikorupsi adalah sebuah cara mencegah semakin kejamnya korupsi di Indonesia. Korupsi di negeri ini sudah sangat meresahkan masyarakat, dan ironisnya malah semakin banyak orang berpendidikan yang tidak mempunyai nurani melakukan korupsi. Ia tidak lagi malu mengembangkan ilmu yang ia sandang, dan ia malah bangga dengan gelar yang disandang pada saat melakukan korupsi. Hal ini tentunya didasarkan kepada tidak adanya aparat yang mencekalnya. Dan apabila dicekal, dia masih mempunyai pasokan dana yang dapat digunakan untuk menyulap pihak aparat. Bukan hanya itu, mereka pun masih bisa wisata, melompat dari satu Negara ke Negara lain.
Pendidikan agama yang selama ini hanya mengajarkan keimanan dan ketakwaan yang kurang menyentuh realitas nyata sudah saatnya diubah menjadi bahasa yang sangat bersentuhan dengan realitas sosial. Misalnya bagaimana sikap beragama kita dalam menghadapi realita kehidupan.
Dengan demikian, pembacaan terhadap teks suci tidak lagi dimaknai sebagai hal yang melangit, akan tetapi lebih diarahkan untuk menjawab persoalan yang membumi. Kalau dahulu teks-teks suci hanya dihafal dan menjadi penghibur disaat sedih, sekarang teks suci menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, teks diposisikan sebagai ilmu yang mampu menjawab persoalan mutakhir. Teks tidak hanya dijadikan sebgai hal untuk melegitimasi setiap kegiatan yang keliru.
Pentingnya pemahaman ilmu dalam menjawab persoalan sosial pernah disinggung Kuntowijiyo (2004). Keprihatinan Kuntowijoyo ini didasarkan kepada banyaknya masyarakat keliru memahami teks. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, Islam hanya dijadikan alat legitimasi dan legalitas semata.
Urgensi pendidikan agama anti korupsi adalah menggugah kesadaran atau alam bawah sadar kita bahwa perilaku korupsi adalah perbuatan bejat yang banyak merugikan orang lain dan melanggar aturan yang telah diwahyukan. Pendidikan agama antikorupsi adalah upaya memahami teks wahyu sebagai ilmu yang dapat menjawab persoalan yang muncul, seperti korupsi. Hal ini dapat diajarkan dalam setiap kelas sejak dari pendidikan dini.



Selasa, 26 Juli 2011

Benarkah Atlantis itu Indonesia ?



 Istilah mitos memang tidak begitu asing di telinga kita. Sebenarnya apa sih yang dimaksud “mitos” itu? Dari kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa mitos adalah cerita tentang dewa-dewa, asal-usul semesta alam atau suatu bangsa yang berhubungan dengan bermacam kekuatan gaib. Lantas mitos seperti apa yang akan kita bahas dalam tulisan ini?
Pernah dengar kata “Atlantis” ? Bagi yang suka membaca pasti tahu buku yang berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” karya Profesor Arysio Nunes dos Santos yang diterbitkan beberapa tahun silam.
Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis dan sangat mengejutkan kita datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalogi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.
Tambah tertarik ketika membaca artikel yang ditulis oleh Profesor Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D. tentang mitos Benua Atlantis yang ternyata adalah Indonesia. Tulisannya mengutip sebuah buku terbitan tahun 2005 ini.
Penelusuran melalui dunia maya menemukan satu promosi penerbitan buku tersebut dengan gambar sampul buku yang sangat menarik dan provokatif. Sampul buku itu menampilkan Kepulauan Indonesia bagian barat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang pernah dikenal sebagai Kepulauan Sunda Besar yang terdiri dari Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan yang dipersatukan oleh paparan luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda.
Jadi Paparan Sunda, atau ketika laut surut pada Kala Pleistosen Akhir menjadi daratan luas disebut dalam dunia ilmiah Geologi internasional sebagai Sundaland. Mungkinkah itu Benua Atlantis yang hilang menurut Profesor Santos? Sungguh membanggakan! Wajar jika kesimpulan Profesor Priyatna diakhir tulisannya bahwa Indonesia yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, harus membuat kita bersyukur, tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia.
Namun banyak ganjalan yang sangat mengganggu dengan pendapat Profesor Santos yang melambungkan nama Indonesia, atau tepatnya Sundaland sebagai Benua Atlantis yang hilang itu. Ganjalan-ganjalan yang berkecamuk dalam pikiran saya akhirnya membawa kepada beberapa situs internet tentang Atlantis. Lalu, fikiran saya terdampar pada sumber awal munculnya mitos Atlantis itu, yaitu dialog Timaeus dan Critias, yang ditulis oleh Plato.
Cerita mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, "Timaeus" dan "Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.
Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.
Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato's Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.
Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.
Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.
Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.
Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai "Heinrich Events".
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali "tidak meyakinkan" untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa. Wallahu’alam bi sowwab|

Sabtu, 18 Juni 2011

RESENSI




Judul                           : Prophetic Education
Pengarang                   : Dr. Moh. Roqib, M.Ag.
Penerbit                       : STAIN Press
Tahun Terbit                : Cetakan I tahun 2011
Kota Terbit                  : Purwokerto
Jumlah Halaman          : 390

Jika Dr. Moh. Roqib, M.Ag. menyatakan ada tiga orang (Kuntowijoyo, Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy) yang mempopulerkan istilah prophetic, maka di tahun 2011 ini sudah muncul satu tokoh lagi yang memakai istilah phrophetik yaitu M. Abdul Halim Sani dalam bukunya yang berjudul “Manifesto Gerakan Intelektual Profetik” terbitan Samudra Biru Yogyakarta di bulan Februari kemarin.
Prophetic Education merupakan buku karya beliau yang ke-16. Mengupas Kontekstualisasi Filsafat dan Budaya Profetik dalam Pendidikan. Seperti yang kita tahu, kata phrophetic dan education itu serapan dari Bahasa Inggris. Prophet berarti nabi dan education berarti pendidikan. Perlu pembaca ketahui bahwa Phrophetic itu sendiri aslinya berasal dari bahasa Yunani, “Prophetes” sebuah kata benda untuk menyebut orang yang bicara awal atau orang yang memproklamasikan diri dan berarti juga orang yang berbicara masa depan. Lantas apa yang dimaksud dengan phrophetic education?
Dalam buku ini disebutkan bahwa, Pendidikan Profetik atau Prophetic Education merupakan proses transfer pengetahuan (knowledge) dan nilai (values) yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan alam sekaligus memahamnya untuk membangun komunitas sosial yang ideal (khairul ummah).
Makna Filsafat dan budaya profetik jika dikonstektualikan dalam pendidikan dibahas secara runtut, mulai dari : tujuan pendidikan profetik, materi pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran profetik, peserta didik dan pendidik yang profetik, evaluasi pendidikan profetik hingga lembaga pendidikan profetik. Bahasa tutur yang ringan menjadikan nilai plus tersendiri dari buku ini. Sehingga semua kalangan dengan mudah memahami materi yang disampaikan.
Pembahasan pemikiran salah satu tokoh dalam paradigma profetik yang disuguhkan menjadikan penambahan kosa kata yang pada akhirnya membuat pembaca sedikit enggan karena menjadikan demikian banyak halaman yang pastinya membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Kedetailannya dalam menuliskan menjadikan pembahasan pendukung lebih dominan sehingga terkesan seperti penelitian karya sastra tokoh tertentu.
Suatu kelebihan buku-buku terbitan Indonesia yaitu banyak catatan kaki dan terkesan bukan pemikiran murni si penulis. Berbeda dengan Negara lain menerbitkan jenis buku tertentu yang terbatas tapi murni penelitian. Ini menjadikan kritik yang patut dipertimbangkan.
Keseluruhan isi buku ungkapkan gagasan terkait format baru pendidikan yang lebih komprehensif dengan membidik manusia yang tidak terpisah dengan Tuhan dan alam (antropologis) sebagai paradigmanya. Bukan sekedar gagasan, melainkan potret pendidikan ideal di masa depan. Realisasi lebih bagus daripada konsep dan design, semoga suatu saat nanti ditemukan lembaga pendidikan semacam ini.

Tafsir Al Maragi... Q.S. Al An'am ayat 74-79


A.    PENDAHULUAN
Ibrahim adalah nama kekasih Allah, bapak para Nabi terbesar sesudah Nuh. Dan kitab kejadian dikatakan bahwa, ia adalah anak kesepuluh dari Sam, dilahirkan di negeri Ur, yaitu Nur dari negeri Celedonia yang sekarang dikenal dengan nama Urfa di wilayah Aleppo. Hal ini dibenarkan oleh sebagian ahli sejarah.
Di dalam kitab kejadian dikatakan bahwa, Allah ta’ala menampakan diri Nya kepada Ibrahim ketika beliau berusia 99 tahun. Allah berbicara dengannya dan memperbaharui janji Nya dengannya, bahwa Dia akan memperbanyak keturunannya dan memberinya negeri Kan’an (Palestina) sebagai miliknya, dan menamakannya dengan nama keturunannya.
Ibrahim disebut Abul Jumhur Al’azim. Berarti dia bapak umat. Ini merupakan kabar gembira dari Allah baginya, bahwa dia akan mempunyai banyak keturunan dari kedua anaknya : Ismail as. dan Ishaq as.
Sebagian ahli sejarah menukilkan bahwa Raja Hamurabi yang hidup semasa dengan Ibrahim as. Adalah seorang berkebangsaan Arab.
Ibrahim telah menempatakan putranya, Ismail bersama ibunya, Hajar yang berkebangsaan Mesir di sebuah lembah yang disitulah kemudian berdiri kota Makkah. Allah telah mendudukan bagi mereka berdua sekelompok orang Jurhum yang kemudian tinggal bersama mereka di sana.
Allah menamakan bapak Ibrahim dengan Azar. Di dalam kitab kejdian namanya adalah Terah yang berarti orang yang bermalas-malas. Di dalam kitab Tarikh, Bukhari mengatakan, Ibrahim adalah putra Azar. Di dalam Taurat ia dinamakan Terah, tetapi Allah menamakan Azar. Ad Dahhak dan Ibnu Jarir menetapkan bahwa namanya Azar.

B.     TAFSIR SURAT AL AN’AM AYAT 74-79
1.      Ayat 74
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."
Hai Rosul, ceritkanlah kepada orang-orang musyrik yang telah kami terangkan kepadamu hujah-hujah atas kebatilan kemusyrikan dan kesesatan mereka, ketika mereka menyembah sesuatu yang tidak ada kuasa untuk mendatangkan manfaat maupun kemudharatan kepada mereka—kisah-kisah tentang nenek moyang mereka, Ibrahim yang mereka agungkan, dan mereka mengaku-aku sebagai pengikut agamanya, ketika dia membantah kaumnya dan menjelaskan kebatilan apa yang mereka perbuat. Yaitu ketika dia berkata kepada Azhar, bapaknya­—sambil mengingkari kemusrikannya dan kemusrikan kaumnya, serta penyembahannya terhadap berhala dengan meninggalkan penyembahan terhadap penciptanya—“Hai Azhar, apakah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah yang menciptakanmu dan menciptakannya, padahal hanya Dia lah yang berhak disembah ?”
Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu yang sama-sama menyembah berhala ini berada dalam kesesatan yang nyata dari jalan yang lurus, tidak ada keraguan padanya untuk mengikuti petunuk. Berhala-berhala ini adalah patung-patung yang kalian pahat dari batu, kalian buat dari kayu atau dari logam, sedang derajat kalian lebih tinggi dan mulia daripadanya. Menurut zatnya, ia bukan Tuhan. Tidak layak bagi orang yang berakal untuk menyembah apa yang sebanding dengannya dalam penciptaan, tidak pula dalam kekuasaan sang khalik, butuh kepada Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Kuasa, tidak kuasa untuk mendatangkan manfaat maupun kemudharatan, tidak dapat member dan menahan pemberian.
Disifatinya kesesatan dengan nyata untuk menjelaskan apa yang telah terjadi pada diri mereka, sebagaimana diisyaratkan oleh bahasa, seperti firman Allah ta’ala kepada Rasulullah saw, “ Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk” (Ad Dhuha, 93:7).
Dan seperti perkataan anda kepada orang yang anda lihat menyimpang dari jalan yang ditempuhnya, “Sesungguhnya jalan itu dari sini, tetapi anda menyimpang darinya.”
2.      Ayat 75
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.”
Kami telah memperlihatkan kebenaran kepada Ibrahim tentang perkara bapak dan kaumnya, bahwa mereka benar-benar berada di dalam kesesatan yang nyata, lantaran beribadah kepada berhala dan patung. Demikian pula setahap demi setahap, Kami memperlihatkan kepadanya kerajaan langit dan bumi. Yakni Kami ciptakan keduanya dengan segala isinya, berupa aturan-aturan yang indah dan buatan yang mengagumkan. Kami perlihatkan kepadanya bintang-bintang yang beredar pada orbitnya di atas jalur yang tetap. Kami perlihatkan padanya bumi dan yang ada di dalam berbagai lapisannya, berupa barang-barang tambang yang bermanfaat bagi kehidupan manusia apabila dia menggunakannya secara benar menurut apa yang telah kami tunjukan kepadanya. Kami juga tampakan kepadanya perkara bumi itu, baik yang bersifat batin maupun lahir. Semua ini dilihat dari segi bukti yang menunjuk kepada keesaan, keagungan kekuasaan dan peliputan ilmu kami atas segala sesuatu.
Semua itu Kami perlihatkan adanya, agar dia mengetahui sunnah Kami terhadap makhluk, kebijaksanaan Kami di dalam mengatur jerajaan, dan ayat-ayat yang menunjukan Rububbiyah Kami. Supaya dengan itu, dia dapat menegakan hujjah terhadap orang-orang musyrik yang sesat, dan supaya dia sendiri termasuk orang-orang yang benar-benar yakin sampai ketingkat ‘ainul-yaqin.
Kemudian Allah Ta’ala merinci kerajaan langit dan bumi yang diperlihatkan kepadanya secara global. Dia berfirman :

3.      Ayat 76
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".
Ketika Allah Ta’ala mulai memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepadanya, seakan ceritanya yang pertama adalah sebagai berikut : ketika malam telah gelap dan menutupi alam bumi sekitarnya, dia memandang kerajaan langit. Dilihatnya sebuah bintang besar yang menonjol dari bintang-bintang lainnya, karena sinarnya yang berkilauan, yaitu Jupiter yang yang merupakan Tuhan terbesar bagi sebagian penyembah bintang dari bangsa Yunani dan Romawi kuno. Kaum Ibrahim adalah imam mereka di dalan penyembahan ini, sedang mereka hanya pengikutnya. Ketika melihat itu, Ibrahim berkata, “ Inilah Tuhanku”. Perkataan ini dikemukakannya dalam forum perdebatan dan adu argumentasi dengan kaumnya, sebagai permulaan pengingkaran terhadap mereka. Pertama-tama dia mengemukakan perkataan mereka sendiri guna menarik perhatian mereka supaya mau mendengarkan hujjah atas kebatilan sembahan terhadap bintang itu. Pertama-tama dia mengaburkan pandangan mereka. Kemudian dia menyampaikan kritiknya, yang dalilnya didasarkan atas indra dan akal.
Tatkala bintang itu tatkala bintang itu tenggelam dan menghilang, dia berkata, “Sesungguhnya aku tidak menyukai apa yang terbenam dan menghilang”. Perkataan ini disampaikan karena orang yang sehat fitrahnya tidak akan menyukai sesuatu yang hilang daripadanya, dan tidak pula merasa kesepian karena kehilangannya. Bagaimana pendapat anda sekarang tentang kecintaan yang paling tinggi dan sempurna? Fitrah dan akal yang yang sehat telah memberikan bimbingan kepada kecintaannya itu. Oleh sebab itu, krcintaan di dalam beribadah ini hanya patut diberikan kepada Tuhan Yang Maha Ada dan Dekat, Maha Mendengar, Maha Melihat lagi Mengawasi, yang tidak pernah hilang, lengah atau lupa, dan yang Zahir dalam segala sesuatu dengan ayat-ayatnya:
“Dengan segala sesuatu Dia mempunyai tanda menunjukan bahwa Dia Maha Esa”
Juga yang batin dalam segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kehalusannya, “ Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia-lah Yang Maha halus lagi Maha Mengetahui”. (Al An’am, 6:103).
Di dalam hadits, ketika kejelasan makna ikhsan diungkapkan, “ Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, kalaupun kamu tidak dapat melihatNya, maka sesungguhnya dia melihatmu.”
Ringkasnya, ayat ini mengisyaratkan kebodohan kaumnya didalam menyembah sesuatu yang tidak terlihat oleh mereka dan tidak tahu sedikit pun tentang urusan ibadah mereka kepadanya. Makna ini lebih dekat dengan perkataannya kepada bapaknya, “ Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?” (Maryam, 19:42)
Ibrahim mengemukakan hujjah dengan tenggelamnya bintang tanpa mengemukakan terbitnya, yang kedua adalah perpindahan dari satu keadaan pada keadaan lain, karena tenggelammnya adalah perpindahan yang disertai dengan bersembunyi dan menutup diri. Ini termasuk hal yang bertentangan dengan sifat rububiyyah.
Hujjah Ibrahim dalam meninggalkan ibadah terhadap Matahari, bulan dan bintang. Ketika melihat permulaan terbitnya bulan dari balik ufuk, dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Perkataan itu disampaikannya dengan nada menceritakan apa yang biasa mereka katakana, sebagai pendahuluan untuk membatalkan perkataan mereka itu.
Dari siyaqul-kalam, segera dapat diketahui, bahwa Ibrahim melihat bintang pada suatu malam dan melihat bulan pada malam berikutnya.

4.      Ayat 77
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat."
Ketika bulan itu tenggelam sebagaimana halnya bintang, padahal ia nampak lebih besar, cahayanya lebih terang dan sinarnya lebih tajam. Dia berkata sambil mendengarkannya kepada orang-orang disekitarnya, “Sekirnya Tuhanku tidak memberiku petunjuk dan taufik untuk mencapai kebenaran dalam tauhidNya, tentulah aku sudah termasuk kaum zalim yang tidak mencapai kebenaran dalam hal itu”. Sehingga mereka tidak mendapat petunjuk, menyembah selain Allah, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak mengamalkan apa yang diridhai Allah Ta’ala.
Disini terdapat sindiran yang lebih pantas dikatakan terdapat keterusterangan kesesatan kaumnya, dan isyarat kepada bergantungannya hidayah Ad Din pada wahyu Illahi. Disini, sindiran meningkat karena hujjah lawan bicara telah terpojok dengan pembuktian pertama, sehingga keyakinan mereka termodali. Ibrahim baru menyindir kesesatan setelah dia yakin, bahwa mereka mau mendengarkan maksud terakhir dari pembicaraannya. Dalam langkah ketiga, dia beralih dari sindiran kepada terus-terang, menyatakan kebesarannya dari mereka, dan bahwa mereka benar-benar berada dalam kemusrikan yang nyata. Hal ini setelah kebenaran benar-benar nampak.

5.      Ayat 78
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”
Sambil menunjuk matahari, dia berkata, “Yang aku lihat sekarang, inilah Tuhanku”. “Ia lebih besar dari bintang dan bulan.” Tampak disini, bahwa Ibrahim memperpanjang argumentasinya untuk menyudutkan mereka. Dalam pembicaraannya ini pula terdapat pendahuluan untuk menegakan hujjah atas mereka, dan tahapan untuk memancing perhatian mereka agar mau mendengarkan pembicaraan sesudah sindiran yang dikhawatirkan akan mereka sangkal.
Ringkasnya, matahari yang terbit ini lebih besar dari bintang dan bulan, lebih terang dan bercahaya. Oleh sebab itu ia lebih patut dikatakan sebagai Tuhan. Setelah matahari terbenam, sebagaimana yang lainnya menghilang, lalu tertutuplah cahayanya, dan kesunyian melebihi kesunyian karena gelapnya bintang dan bulan, maka dia membeberkan sejelas-jelasnya, apa yang dia kehhendaki setelah sindiran itu, sambil melepaskan diri kemusrikan kaum karena keburukannya.
Ringkasnya, dia memutar balik dan mengulur-ulur pembicaraan dengan penuh kelembutan hingga sampai kepada apa yang dia kehendaki dengan cara yang terbaik dan halus, sambil membebaskan diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka jadikan Tuhan dan tuhan-tuhan selain Allah itu.
Setelah membebaskan diri dari kemusrikan mereka itu, dia menutup dengan menjelaskan akidahnya akidah yang murni, dia berkata,
6.      Ayat 79
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku di dalam beribadah hanya kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, serta menyempurnakan penciptaannya di dalam enam hari. Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang yang terang benderang. Dial ah yang menciptakan kalian, barang-barang tambang dan tumbuh-tumbuhan yang kalian jadikan berhala.
Ringkasnya, Ibrahim berlepas diri dari kemusrikan mereka atau sekutu-sekutu mereka, kemudian dari diri mereka sendiri. Senada dengan ayat ini ialah firman Allah dalam Q.S. Al Mumtahah ayat 4 yang berbunyi, “Sesungguhnya telah ada tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian’.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Zaid, bahwa ketika Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi”, kaum Ibrahim berkata, “Engkau tidak membawa apa-apa, kami menyembahNya dan menghadapkan diri kepadaNya”. Ibrahim membantah, bahwa dia lurus dalam hal itu yakin memurnikan ketaatan kepadaNya, tidak menyekutukan sesuatu denganNya sebagaimana mereka lakukan.
Yang dia maksudkan adalah, bahwa dia menyimpang dari sembahan-sembahan mereka yang batil dan dari sesembahan lainnya. Penyerahan dirinya adalah murni, tidak ternodai oleh kemusrikan atau riya. Dia tidak termasuk orang yang menyekutukanNya, yang menghadapkan diri kepada selain Allah seperti bintang, malaikat, raja, orang-orang saleh, atau benda-bendayang mereka jadikan Tuhan seperti berhala dan patung.
Secara lahir, apa yang diceritakan Allah tentang Ibrahim as, adalah bahwa kaumnya menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan, bukan sebagai pencipta yang menjadikan bintang-bintang sekaligus sebagai pencipta tuhan-tuhan. Allah ialah sembahan. Setiap yang menyembah sesuatu maka dia telah menjadikannya Tuhan Ar –Rabb ialah yang menguasai, memelihara, mengatur dan bebas berbuat. Makhluk tidak mempunyai Tuhan selain Allah yang menciptakan mereka. Dia lah yang menguasai segala sesuatu disetiap zaman dan keadaan, sedangkan kerajaan selain Allah bersifat kurang dan sementara. Dial ah yang berhak disembah. Ibadah ialah menghadapkan diri dengan berdoa dan mengagungkan, baik bersifat perkataan maupun perbuatan kepada Tuhan yang mempunyai kekuasaan tertinggi, yang menciptakan, mengadakan dan bebas untuk bertindak terhadap makhluk.

C.     ANALISIS
Ada dua asal penciptaan ibadah kepada selain Allah, seperti kepada batu, matahari, bulan dan sebagainya.
Pertama, sebagai orang yang lemah akalnya melihat beberapa manifestasi kekuasaan Allah Ta’ala pada sebagian makhlukNya. Mereka mengira bahwa yang demikian itu bersifat dzati (yang sebenarnya) bagi makhluk ini, bukan sebagai akibat dari sunah-sunah Allah yang dapat dijadikan sebagai sebab-musabab.
Kedua, dijadikannya sebagian makhluk yang mempunyai kekhususan untuk memberikan manfaat atau mudharat, sebagai perantara kapada Tuhan yang Hak guna memberikan syafa’at di sisiNya dan mendekatkan kepada Allah bagi setiap orang yang menghadapkan diri. Maka orang yang mempunyai kebutuhan, memohon dan mengagungkan (makhluk) dengan perkataan maupun perbuatan, dengan anggapan bahwa dengan sebab pengaruh makhluk itulah Allah Ta’ala akan menerima permohonannya.
Diantara makhluk yang mereka buat sebagai pernatara ini ialah patung, berhala, kuburan dan lain sebagainya. Inila syirik yang dilakukan orang-orang Arab pada masa diutusnya Nabi SAW. Oleh sebab itu, ketika tawaf di Baitul Haram, mereka berkata, “Kusambut panggilan Mu, tidak ada sekutu bagi Mu, kecuali sekutu yang ia adalah milik Mu, Engkau dan segala apa yang ia miliki.”
Ibrahim telah membawa hujjah yang sempurna. Dia mencurahkan ibadahnya hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi, tanpa melalui perantara. Mengenai patung-patung yang mereka buat, Ibrahim berkata, “Sebenarnya Tuhan kalian Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. (Al An Biya, 21 ayat 56)

D.    SUMBER
Ahmad Mustafa Al Maragi. Tafsir Al Maragi. Toha Putra : Semarang. Cet. 2. 1992