Senin, 14 November 2011

METODE PEMBELAJARAN BAHASA ASING



PENGERTIAN
Metode           : langkah-langkah yang harus dimbil dalam pembelajaran, cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metodologi     : teori dari metode
Metodelogis    : sifat metode

KOMPETENSI DASAR (KD)
  

TUJUAN DAN MANFAAT


BAB 1
KELEBIHAN, KEKURANGAN, TANTANGAN DAN PELUANG BAHASA ARAB

a.       Kelebihan Bahasa Arab
Kelebihan yang dimiliki Bahasa Arab adalah sebagai berikut :
§  Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an
§  Bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam dunia internasional
§  Huruf-huruf Arab memiliki keunikan tertentu seperti adanya harokat yang dengannnya dapat dibedakan subyek, objek, dll.
§  Bahasa Arab sebagai bahasa penghubung antar umat islam di dunia
§  Dengan menguasai bahasa Arab, orang muslim bisa memahami perkembangan ilmu pengetahuan agama lebih mendalam.
§  Bahasa arab kekal sepanjang zaman
§  Bahasa Arab itu padat makna
§  Bahasa Arab itu mudah dihafal dan tidak menjemukan

b.      Kekurangan Bahasa Arab
Kekurangan disini diartikan sebagai hambatan dalam mempelajari Bahasa Arab jika dilihat dari dua aspek, yaitu:
1.      Kebahasaan
Masalah kebahasaan yang muncul dalam pembelajaran Bahasa Arab adalah sebagai berikut:
Ø  Kesulitan dalam aspek bunyi karena adanya perbedaan bunyi, ada fonem bahasa Arab yang tidak ada bandingannya dalam bahasa Indonesia. Misalkan : Tsa, ‘ain, gain, tha, kha, ha.
Ø  Kesulitan dalam mendengarkan suara huruf yang berdekatan makhrojnya, contoh : ha, sod, tsa, sa, kha.

2.      Tenaga pengajar
Tenaga pengajar di Indonesia sedikit yang menguasai pelajaran bahasa Arab. Mereka mengajar bahasa Arab ala Indonesia, maksudnya mereka mengajar bahasa dengan menggunakan pengantar bahasa Indonesia. Hal seperti ini tidak dapat dipungkiri karena mereka tidak dipersiapkan untuk itu, tapi mereka mempunyai kesempatan untuk mengajar bahasa Arab meskipun pasif.
Kebanyakan dari tenaga pengajar bahasa Arab di Indonesia, ketika telah dimulai kegiatan belajar-mengajar, ia tidak menggunakan bahasa Arb, hal ini mempengaruhi siswanya dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Padahal semakin sering siswa mendengar bahasa Arab ia akan semakin dekat dengan bahasa Arab.
Pengajar biasanya langsung pindah materi tanpa tahu apakan anak didiknya sudah paham dengan materi yang telah diajarkan. Mengajar untuk orang non Arab sebaiknya dilakukan metode drilling, karena mereka masih asing dengan istilah-istilah bahasa Arab.
Jarang sekalu pengajar memberikan latihan-latihan (tugas) untuk anak didiknya, sehingga ia tidak hanya memberikan materi saja. Lebih bagus juga adanya timbale balik dari siswanya. Tetapi perlu diingat ketika hendak member latihan haruslah melihat anak didiknya siap. Timbal balik dari siswa bisa dicontohkan dengan mereka aktif bertanya bisa dilatih dengan menggunakan bahasa Arab.

c.       Tantangan Mempelajari Bahasa Arab
Menurut ‘Abd al Shabar Syahin, pendidikan bahasa Arab dewasa ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang serius yaitu:
Akibat globalisasi, penggunaan bahasa Arab fushha di kalangan masyarakat Arab sendiri mulai berkurang frekuensi dan proporsinya, cenderung digantikan dengan bahasa Arab ‘Ammiyah dan dialek local.
Realitanya, bahasa Arab sekarang juga dihadapkan pada tantangan globalisasi, tepatnya tanganan pola hidup dan colonial Barat, termasuk penyebarluasan bahasa Arab di dunia islam.
Derasnya gelombang pendangkalan aqidah, akhlak dan penjauhan generasi muda islam dan sumber-sumber ajaran islam melalui pencitraan buruk terhadap bahasa Arab. Dalam waktu yang sama terjadi kampanye besar-besaran atas nama globalisasi untuk menyebarkan dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling kompatibel dengan kemajuan teknologi.
Selain ada upaya pernggantian huruf Aral dengan latin, bahasa Arab pada lembaga pendidikan di dunia islam juga mulai digeser meskipun belum sampai digantikan oleh bahasa Inggris atau Prancis sebagai bahasa pengantar untuk pembelajaran sains.
Sumber-sumber dan literature kebahasa Araban di lembaga pendidikan kita juga masih relative kurang. Hal ini antara lain disebabkan oleh minimnya perhatian pimpinan fakultas dan universitas untuk mengembangkan pendidikan bahasa Arab dan juga disebabkan oleh kurangnya hubungan lintas universitas atau lembaga pendidikan dalam bentuk kerjasama ilmiah kita dengan perguruan tinggi di Timur Tengah sehingga kita tidak banyak mendapat pasokan sumber-sumber dan hasil-hasil penelitian kebahasa Araban. Selain itu penting juga ditegaskan bahwa perhatian negara-negara Arab dalam bentuk penyediaan sumber belajar, termasuk eferensi dan literature yang memadai untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia relative masih kurang.

d.      Peluang Mempelajari Bahasa Arab
Setiap tantangan pasti memberikan peluang dan prospek jika kita berusha untuk menghadapi tantangan itu dengan berpikir penuh kesungguhan dan kearifan, termasuk tantangan yang kini dihadapi pendidikan bahasa Arab. Dibawah ini beberapa prospek mempelajari bahasa Arab, yaitu :
Pertama, peluang untuk pengembangan Bahasa Arab semakin terbuka karena seorang yang menguasai bahasa arab dapat dipastikan memiliki modal dasar untuk mendalami dan mengembangkan kajian islam, atau setidak-tidaknya mengembangkan studi ilmu-ilmu keislaman seperti : fiqih, tafsir, hadis, sejarah islam, filsafat islam, dsb. Dengan kata lain, bahasa Arab dapat dijadikan sebagai alat dan modal hidup untuk mencari dan memperoleh yang lain diluar bahasa Arab, baik itu ilmu maupun keterampilan berkomunikasi lisan.
Kedua, pengembangan profesi keguruan, yaitu menjadi tenaga pengajar bahasa Arab yang professional. Sebab yang mempunyai kompetensi dan kewenangan akademik dan professional di MI/SD, MTs/SMP dan MA/SMA atau lembaga pendidikan yang sederajat adalah lulusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), bukan lulusan BSA (Bahasa san Sastra Arab) atau lainnya, meskipun belakangan ini ada kecenderungan lulusan BSA mengambil Program Akta Mengajar (akta IV) untuk memperoleh kompetensi dan kewenangan menjadi guru.
Ketiga, penggiatan dan pembudayaan tradisi penelitian dan pengembangan metodologi pembelajaran bahasa Arab. Hal ini perlu dilakukan agar ilmu bahasa Arab dan metodologi pembelajarannya semakin berkembang dinamis dan maju. Melalui penggiatan penelitian, tentu saja karya akademik dapat dihasilkan dan pada gilirannya komunitas pendidikan bahasa Arab menjadi lebih tercerahkan. Oleh karena yang selama ini menjadi hambatan setidak-tidaknya kurang mengundang minat meneliti adalah rendahnya dana penelitian, maka dipandang penting ketika pimpinan perguruan tinggi mewajibkan setiap dosen untuk meneliti dan/atau menulis karya-karya akademik yang relevan dengan bidang keilmuannya.
Keempat, intensifikasi penerjemahan karya-karya berbahasa Arab, baik mengenai keilmuan dan keislaman ke dalam bahasa Indonesia dan/atau sebaliknya. Profesi ini cukup menantang dan menjanjikan harapan, meskipun penerjemah relative belum mendapat apresiasi yang sewajarnya.

BAB 2
PRINSIP-PRINSIP DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Prinsip-prinsip dalam pembelajaran bahasa Arab adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip-Prinsip Kognitif
Prinsip kognitif meliputi:
a)      Prinsip Otomatisasi
Prinsip ini mempercayai bahwa belajar yang efektif yitu dengan cara memfokuskan pada penggunaan bahasa secara langsung dan tidak terpaku pada penggunaan bahasa secara langsung dan tidak terpaku pada kaidah gramatikal. Seperti halnya seorang bayi yang belajar bahasa dari ibunya secara otomatis tanpa menghiraukan bentuk-bentuk bahasa yang digunakan.
b)      Prinsip Pembelajaran Kebermaknaan
Pelajar menyerap pelajaran secara lebih lama daripada belajar secara hafalan. Sebagai contoh guru mengajarkan kosakata maupun gramatika dalam konteks.
c)      Prinsip Pujian Atau Imbalan
Dengan adanya pujian atau imbalan ini maka siswa akan terdorong untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi, guru sering tidak memperhatikan hal ini sehingga mereka kikir untuk memberikan reward yang sebenarnya sangat dibutuhkan sebagai motivasi bagi diri mereka. Imbalan yang paling ampuh mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu motivasi intrinsic, dorongan untuk melakukan sesuatu kegiatan atas dasar keinginan yang muncul darinya.
d)     Prinsip Motivasi Intrinsic
Bagi pendidik seharusnya mampu mengajar dengan menciptakan suasana yang kondusif. Guru/pendidik harus memberikan inovasi dalam mengajar, menyampaikan materi dengan cara yang menarik, menyenangkan serta menantang sehingga pelajar termotiasi untuk belajar.
e)      Prinsip Strategic Investment
Prinsip ini meyakini bahwa keberhasilan pelajar dalam belajar disebabkan karena kemauan belajar untuk menginvestasikan waktu, upaya, perhatiannya terhadap proses belajarnya yaitu dengan menggunakan strategi belajar dalam proses belajarnya. Hal ini dimaksudkan jika pelajar tersebut mampu memanage cara belajarnya yang paling efektif bagi dirinya, maka hasilnya juga akan sesuai dengan tujuannya dalam belajar. Dalam kenyataannya pelajar yang berhasil yaitu pelajar yang mempunyaistrtegi belajar dalam proses belajarnya.

2.      Prisip-Prinsip Efektif
a.       Prinsip egoisme bahasa
Dalam mempelajari bahasa pelajar harus diperlakukan dengan kelembutan dan sikap yang bijak dan menghindari punishment. Faktor psikologi sangat berpengaruh dalam belajar, oleh karena itu guru harus selalu memberikan dorongan yang kuat agar mereka terhindar dari rasa cemas dalam menggunakan bahasa target. Salah stu caranya yaitu dengan memberikan materi secara bertahap dari yang mudah sampai materi yang menantang (sulit).
b.      Prinsip percaya diri
Keberhasilan pelajar dalam belajar sangat ditentukan oleh kepercayaan terhadap dirinya sendiri sehingga pelajar mampu memahami materi yang diajarkan. Dalam hal ini guru sebaiknya selalu menemukan apa yang pelajar bisa, bukan apa yang pelajar tidak bisa. Karena ini penting untuk mengembangkan sikap percaya diri pada siswa. Salah satu caranya yaitu dengan menyuruh mengajukan pertanyaan kepada pelajar yang sekiranya dia mampu mengerjakannya.
c.       Prinsip pengambilan resiko
Prinsip ini bermanfaat bagi siswa agar siswa berani menggunakan bahasa target. Pelajar harus berani untuk menggunakan bahasanya dan tidak takut salah, maka dengan ini mereka akan terbiasa menggunakan bahasa secara aktif. Tugas guru menurut prinsip ini, guru harus kreatif dalam menciptakan kelas yang kondusif untuk mendorong pelajar agar merasa segan untuk selalu menggunakan bahasa target.
d.      Prinsip kaitan budaya dengan bahasa
Dalam mempelajari bahasa, maka pelajaran target, misalkan bahasa arab, maka pelajar diberi pengetahuan praktis dalam penggunaan bahasa sehingga secara budaya dapat diterima. Dengan demikian, dalam mengajarkan bahasa asing, guru harus memperkenalkan kata-kata, frase, atau kalimat-kalimat yang lazim digunakan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa target. Misalnya tentang bagaimana berekspresi pada : cara makan, mimic saat berbicara, bahkan arti senyum dalam bahasa target.

3.      Prinsip-Prinsip Linguistik
a.       Prinsip kemahiran bahasa
Didalam kelaskemampuan bahasa masing-masing individu tentu saja berbeda-beda. Hal ini menjadi pertimbangan bagi guru untuk menentukan metode dan menyusun materi pelajaran yang dikemas dalam Satuan Acara Pelajaran. Dengan adanya interlanguage (perbedaan kemampuan antar individu). Maka untuk sampai pada kompetensi yang diharapkan perlu adanya umpan-balik yang bersifat efektif serta bervariasi terhadap kemampuan siswa, baik dari guru maupun siswa lainnya.
Implikasi pedagogis dari prinsip ini adalah guru harus menciptakan kegiatan agar pelajar dapat mengoreksi terhadap kesalahannya, mengarahkan kepada pelajar bahwa berbuat kesalahan dalam menggunakan bahasa bukan hal yang tidak menguntungkan, akan tetapi justru memperkuat pemahaman.
b.      Prinsip komunikasi
Prinsip ini merupakan prinsip terpenting dalam prinsip linguistic. Tujuan pembelajaran bahasa menurut prinsip ini adalah pencapaian kompetensi komunikasi yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Perhatian utama dalam belajar yaitu penggunaan bahasa, bukan kaidah-kaidah bahasa. Pemberian materi tentang gramatika harus dihindari apabila tidak dikemas dengan konteks.

Dibawah ini adalah prinsip-prinsip pengajaran bahasa asing yang lain, yaitu:
1.      Ujaran (berbicara) sebelum tulisan
2.      Prinsip kalimat-kalimat dasar
3.      Prinsip pola-pola sebagai kebiasaan
4.      System bunyi untuk digunakan (dengan cara demonstrasi)
5.      Control vocabulary (mengembangkan vocab sesuai tahap belajar)
6.      Pengajaran problema-problema (perbedaan struktur bahasa)
7.      Tulisan sebagai pencatat ujaran (pembicaraan)
8.      Pola-pola bertahap
a)      Mulailah dengan kalimat-kalimat, bukan kata-kata
b)      Perkenalkan unsur dan bagian kalimat secara utuh seperti jenis kata
c)      Tambahkanlah pola baru ke yang dahulu
d)     Sesuaikan pelajaran dengan peserta didik
e)      Menghafal dialog
9.      Praktek bahasa vs terjemah
10.  Bahasa baku otentik sebagaimana ajarannya (tidak terpaku gramatikal)
11.  Praktek waktu belajar
12.  Pembentukan jawaban-jawaban
13.  Kecepatan dan gaya
14.  Imbalan segera
15.  Sikap terhadap target kebudayaan
16.  Isi (bagaimana penggunaan bahasa tersebut di negara asing

BAB 3
SISTEM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Kemahiran seseorang terhadap bahasa Arab tidak menjamin dia mahir dalam mengajarnya. Mahir berbahasa adalah suatu keahlian dan mahir mengajarkan. Bahasa adalah keahlian yang lain, seorang guru bahasa arab setidaknya menguasai tiga hal, yaitu kemahiran bahasa Arab, pengetahuan tentang bahasa dan budaya Arab dan keterampilan mengajarkan bahasa Arab.
Sehubungan dengan kemahiran yang ketiga tersebut, dalam kurikulum program studi bahasa Arab terdapat sejumlah mata kuliah keahlian proses belajar mengajar. Satu diantaranya adalah metodologi pembelajaran bahasa Arab. Para pengajar bahasa Arab yang bertugas di lembaga pendidikan atau yang belum bertugas juga perlu menambah pengetahuan mereka mengenai berbagai pengetahuan yang terjadi dalam metode pengajaran bahasa.
Metode pengajaran bahasa asing, terutama bahasa Arab mengalami perkembangan secara terus-menerus seiring dengan perkembangan yang terjadi. Pada perkembangan ilmu bahasa, ilmu pendidikan dan ilmu jiwa.
Untuk mencapai suatu kemahiran, pendidik perlu menguasai berbagai macam metode pembelajaran bahasa Arab. Salah satunya adalah yang akan kita bahas dalam makalah ini yaitu system pembelajaran bahasa Arab.
Sebelum pembahasan lebih jauh mengenai system pembelajaran bahasa Arab, sebelumnya akan dikemukakan pengertian system pembelajaran dan bahasa Arab itu sendiri. Pengertian system menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut[1] :

SISTEM
a.    Menurut Ludwig (1997), system adalah seperangkat unsure yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam suatu lingkungan tertentu.
b.    A. Rapoport (1997) menyatakan bahwa, system adalah sekumpulan elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan.
c.    L. Ackof (1997) mendefinisikan system adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian yang saling mempengaruhi.
d.   Menurut Gordon B. Davis (1995), Sistem merupakan bagian-bagian yang beroprasi secara bersama-sama untuk mencapai beberapa tujuan.
e.    Raymond Mcleod (2001) Sistem yaitu sekelompok elemen yang terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan.
f.     Menurut Budi Sutedjo (2002), sisterm adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan.

PEMBELAJARAN
·           Pembelajaran[2] dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti : proses, cara, perbuatan yang menjadikan orang atau makhluk hidup belajar dan perbuatan mempelajari.
·           Pembelajaran[3] adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).

BAHASA ARAB
Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah), atau secara mudahnya Arab (عربي ‘Arabī), adalah sebuah bahasa Semitik yang muncul dari daerah yang sekarang termasuk wilayah Arab Saudi. Bahasa ini adalah sebuah bahasa yang terbesar dari segi jumlah penutur dalam keluarga bahasa Semitik. Bahasa ini berkerabat dekat dengan bahasa Ibrani dan bahasa Aram.

2. SISTEM PEMBELAJARAN BAHASA
Dalam perkembangan pengajaran bahasa, ada beberapa system dalam mengajarkan unsure-unsur bahasa dan keterampilan-keterampilan berbahasa tersebut, yaitu system terpisah-pisah, system terpadu dan system gabungan.

a. Sistem Terpisah-pisah
Sistem terpisah-pisah dalam bahasa Inggris disebut Sparated system dan dalam bahasa Arab disebut dengan Nizha;mul furu’. Dalam system ini, pelajaran bahasa Arab dibagi menjadi beberapa mata pelajaran yaitu : Nahwu, Shorof, Muthala’ah, Insya, Istima’, Muhadatsah,  Imla, Khot dst. Setiap mata pelajaran memiliki kurikulum atau silabus, jam pertemuan buku, evaluasi, dan nilai hasil belajar.
Kelebihan system ini adalah guru dan perancang kurikulum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk memberikan perhatian khusus kepada bidang kajian atau mata pelajaran tertentu yang menurut pandangannya atau menurut ketentuan kurikulum, atau menurut kebutuhan dan minat siswa sangat penting.
Adapun kelemahannya, system ini mencabik-cabik keutuhan bahasa dan menghilangkan esensi dan watak alamiahnya. Hal ini menjadikan pengetahuan dan pengalaman kebahasaan pelajar juga terpotong-potong, sehingga tidak mampu menggunakannya secara baik dan benar dalam kehidupan nyata.. Pada sisi lain, system ini juga menyebabkan ketidakseimbangan antar berbagai uunsur bahasa dan keterampilan berbahasa, baik pada proses pembelajaran maupun output atau hasilnya.

b. Sistem Terpadu
Sistem terpadu dalam bahasa Inggris disebut Integrated system atau All in One System. Sedangkan dalam bahasa Arab disebut, Nizha;mul wahdah’.
Dalam system ini bahasa dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, saling berhubungan dan berkaitan bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, hanya ada saatu mata pelajaran, satu jam pertemuan, satu buku, satu evaluasi, dan satu nilai hasil belajar.
Kelebihan system terpadu ini adalah landasan teoritisnya yang kuat, baik teori psikologis, teori kebahasaan, maupun teori kependidikan. Adapun kelemahannya jika diterapkan pada tingkat lanjut kurang dapat memenuhi keperluan pendalaman unsure bahasa aatau keterampilan  berbahasa tertentu yanga memeng menjadai kebutuhan nyata dari para pembelajar. Dalam praktek pembelajaran dengan system terpadau terdapat fariasi bahan utama yang dijadikan basis pembelajaran yaitu:
1). Pembelajaaran berbasis topic atau teks bacaan
Bahan pelajaaran utama berupa bacaan menganai topk tertentu. Dari bahan utama ini dilakukan kegiatan :
a)      Pemahaman kosakata
b)      Pemahaman dan analisis isi teks
c)      Penguasaan bunyi-bunyi bahasa melalui kegiatan membaca keras percakapan dengan topic yang relevan
d)     Latihan menulis berdasarkan isi bacaan pemahaman teks simaan yang parallel dengan teks bacaan
e)      Penguasaan struktur atau tata bahasa yang terdapat pada teks demikian setedrusnya.

2). Pembelajaran berbasis situasi atau teks percakapan
Bahan pelajaran utama berupa teks percakapan dalam situasi tertentu atau mengenai topic tertentu. Dari bahan utama ini dikembangkan berbagai kegiatan antara lain.
a)      Dramatisasi teks sampai dengan percakapan bebas.
b)      Melafalkan dan membedakan bunyi-bunyi tertentu.
c)      Latihan menulis dengan mengubah teks dialog menjadi narasi.
d)     Memahami teks bacaan atau semakan yang parallel.
e)      Pembahasan struktur atau tata bahasa tertentu yang ada dalam teks, demikian seterusnya.

c. Sistem Gabungan
System terpisah-pisah dalam pengajaran bahasa arab digunakan dipesantren dan madrasah sampai dengan tahun 60-an. Sedangkan system terpadu mulai diterapkan sejak pertengahan tahun70-an disekolah, madrasah dan sebagian pondok pesantren sampai saat ini.
Namun terdapat pula lembaga pendidikan yang menggabungkan kedua system dalam pola pengajaran bahasa arabnya. Sebagai contoh KMI Gontor menerapkan system terpadu dalam pengajaran bahasa arab selama satu tahun. Dikelas satu KMI itu hanya ada mata pelajaran bahasa arab yang ditangani seorang guru dengan jumlah jam lebih dari sepulauh jam perminggu. Kemudian pada kelas dua dan seterusnya diterapkan system terpisah-pisah dengan memecah-mecah pelajaran bahasa Arab dalam beberapa mata pelajaran.
Contoh lain adalah pembelajaran bahasa Arab di jurusan sastra Arab Universitas Negeri Malang. Pada tahun pertama (dua semester), hanya ada satu mata kuliah bahasa Arab “ Durus Arabiyah Mukatstsafah”, dengan bobot 12 sks dan jumlah jam 18 jam perminggu. Baru pada tahun kedua, bahasa arab dijadikan disajikan secara terpisah-pisah, terdiri dari matakuliah- matakuliah keterampilan berbahasa, kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan Arab.

BAB 4
KETERAMPILAN BERBAHASA ARAB DAN CARA MENGAJARKANNYA

Keterampilan berbahasa Asing merupakan suatu kemampuan dalam penggunaan bahasa, ini meliputi:
a.       Keterampilan menyimak
Keterampilan menyimak ( المهارة الاستماع/listening skill) merupakan kemampuan seseorang dalam memahami kata atau kalimat yang diucapkan oleh mitra bicara atau media tertentu. Keterampilan menyimak dapat disajikan dalam empat fase, yaitu:
1.      Fase Pengenalan
Pada fase ini siswa dikenalkan bunyi huruf-huruf Arab, baik yang tunggal maupun yang sudah disambung dengan huruf-huruf lain dalam kata-kata. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan contoh pengucapan bunyi dengan baik dan benar lalu diikuti oleh siswa.
2.      Fase pemahaman permulaan
Dalam fase ini para siswa diajak untuk memahami pembicaraan sederhana yang dilontarkan oleh guru tanpa respon lisan, tetapi dengan perbuatan. Contoh : ijlis اجلس(duduklah) yaitu perintah guru pada siswanya untuk duduk.
3.      Fase pemahaman pertengahan
Pada fase ini siswa diberi pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau tertulis dengan contoh kegiatan seperti, guru membacakan bacaan pendek atau memutar rekaman. Setelah itu guru member pertanyaan mengenai isi bacaan atau rekaman tersebut.
4.      Fase pemahaman lanjutan
Pada fase ini para siswa diberi latihan untuk mendengarkan cerita-cerita dari radio atau TV danmenyimak rekaman tentang kegiatan.

b.      Keterampilan berbicara
Keteramplan bicara (مهارة الكلام  /speaking skill) adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan berupa ide, pendapat, keinginan atau perasaan pada mitra bicara. Subyakto Mahaban membagi aktivitas berbicara dalam 2 kategori, yaitu:
1.      Latihan prakomunikatif
Latihan prakomunikatif dimaksudkan membekali para pelajar dengan kemampuan dasar dalam berbicara yang sangat diperlukan ketika terjun di lapangan seperti latihan penerapan pola dialog, kosa kata, kaidah, mimic muka, dsb.
2.      Latihan komunikatif
Latihan komunikatif adalah latihan yang lebih mengandalkan kreatifitas para pelajar dalam melakukan latihan. Pada tahap ini keterlibatan guru secara langsung mulai dikurangi untuk member kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan sendiri. Para siswa dalam tahap ini ditekankan untuk lebih banyak berbicara daripada guru. Sedangkan penyajian latihan diberikan secara bertahap, dan dianjurkan agar materi latihan dipilih sesuai dengan kondisi kelas. Beberapa tahap yang diberikan seperti:
·         Percakapan kelompok ( الجوار الجماعي )
·         Bermain peran   ( التمثيل )
·         Praktek ungkapan social    ( تطبيق التعبيرات الاجتماعية )
·         Praktek lapangan( الممارسة في المجتمع )
·         Problem solving ( حل المشكلات )

c.       Keterampilan membaca
Keterampilan membaca ( مهارة القراءة/reading skill) adalah kemampuan mengenali dan memahami isi sesuatu yang tertulis (lambang-lambang tertulis) dengan melafalkan atau mencernanya didalam hati. Pembaca yang baik adalah orang yang mampu berkomunikasi secara intim dengan bacaannya sehingga ia bisa gembira, marah, kagum. Rindu, sedih, dan sebagainya sesuai gelombang isi bacaan. Bukan hanya itu saja, pembaca yang baik harus dapat menggunakan isi bacaannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara garis besar, membaca terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Membaca nyaring  ( القراءة الجهرية )
Membaca nyaring adalah membaca dengan melafalkan/menyuarakan symbol-simbol tertulis berupa kata-kata/kalimat yang dibaca. Latihan membaca ini lebih cocok diberikan kepada siswa tingkat pemula. Ada dua teknik yang bisa dilakukan dalam pengajaran membaca yaitu:
a)      Teknik sintesis( التركيب )
Teknik ini dilakukan dengan mendahulukan huruf daripada kata. Teknik ini bisa disebut اللجز /persial sebab pengajaran materi dimulai dari latihan terkecil (huruf) sampai kepada keseluruhan (kata). Misalnya mengajar kata علم, ada dua cara:
·         Memisahkan huruf (ع ل م  )‘ain, lam, mim disertai I’robnya ‘ain difathah dibaca “a”, lam dikasroh dibaca “li”, mim difathah dibaca “ma”.
·         Menyatukan huruf-huruf sehingga menjadi bentuk kata yang utuh.

b)      Teknik analisis ( التحليل )
Teknik ini biasanya disebut  كل/total, sebuah pengajaran materi dari keseluruhan sampai ke bagian . Ketentuannya : jika materi yang diajarkan berbentuk  kat, maka yang didahulukan adalah kata atau huruf.

2.      Membaca Diam ( القراءت الصامتة )
Membaca diam atau disebut juga membaca dalam hati lazim dikenal dengan membaca pemahaman, yaitu membaca dengan tidak melafalkan symbol-simbol teknis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca, melainkan hanya mengandalkan kecermatan eksplorasi visual.
Beberapa teknik membaca diam yang bisa dilakukan oleh guru, guru menyajikan suatu bacaan yang ditulis di papan tulis, di papan peraga, di transparasi untuk digunakan di OHP, atau di computer yang ditayangkan dengan LCD proyektor, kemudian:
Ø  Menunjukan dan menyuruh pelajar untuk membaca sambil dihitung waktunya.
Ø  Menggunakan penggaris atau kertas panjang untuk mengikuti kecepatan membaca yang ditentukan.
Ø  Menggunakan penutup bacaan yang agak lebar, ditengah penutup itu diberi lubang panjang, dan guru memperlihatkan baris demi baris dengan lubang memanjang.

d.      Keterampilan menulis
Keterampilan menulis adalah kemampuan dalam mendeskripsikan atau mengungkapkan isi pikiran, mulai dari aspek sederhana seperti menulis kata-kata sampai kepada aspek yang komplek yaitu mengarang. Keterampilan menulis dalam bahasa Arab ada tiga hal, yaitu:
1.      Keterampilan Imla’
Menurut Mahmud Ma’ruf, imla’ adalah menuliskan huruf-huruf sesuai posisinya dengan benar dalam kata-kata untuk menjafa terjadinya kesalahan makna.
Secara umum ada tiga percakapan dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran imla’ yaitu: kecermatan mengamati, mendengarkan dan kelenturan tangan dalam menulis.
Teknik-teknik yang harus diperhatikan dalam pembelajaran imla’ adalah sebagai berikut:
ü  Imla’ menyalin adalah memindahkan tulisan dari media tertentu dalam buku pelajar.
ü  Imla’ mengamati yaitu mengamati tulisan dengan cermat, lalu memindahkannya dalam buku tanpa melihat tulisan lagi.
ü  Imla’ menyimak yaitu mendengarkan kata/kalimat/teks yang dibacakan lalu menulisnya di buku.
ü  Imla’ tes bertujuan untuk mengukur kemampuan dan kemajuan para pelajar dalam imla’ yang telah mereka pelajari.

2.      Keterampilan Kaligrafi( الخط )
Kaligrafi adalah kategori menulis yang tidak hanya menekankan rupa atau postur huruf dalam membentuk kaata-kata dan kalimat, tetapi juga menyentuh aspek-aspek estetika( الجمل ). Macam-macam gaya atau aliran kaligrafi seperti khath kufi, naskh, tsulutsi, faritsi, diwani jail, ijazh, ri’qi, teknik dasarnya menjiplak, meniru dan membuat sendiri.

3.      Keterampilan mengarang( الانشاء )
Mengarang adalah kategori menulis yang berorientasi kepada pengekspresian pokok pikiran berupa ide, pesan, perasaan dan sebagainya kedalam bahasa tulisan. Menulis karangan tidak hanya mendeskripsikan kata-kata atau kalimat dalam tulisan secara structural untuk meyakinkan pembaca.
Teknik pembelajaran mengarang adalah sebagai berikut:
·         Mengarang terpimpin yaitu membuat kalmia atau paragraph sederhana dengan bimbingan tertentu berupa pengarahan.
·         Mengarang bebas yaitu membuat kalimat atau paragraph tanpa pena/garahan. Dalam hal ini pengajar diberi kebebasan untuk mengekspresikan pikiran tentang suatu hal tertentu.


[1] Sistem informasi manajemen pendidikan. Eti Rochaeti-Pontjorini Rahayuningsih Prima Gusti Yanti.2006 (Jakarta:PT Bumi Aksara). 2
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed.3. Departemen Pendidikan Nasional. 2007 (Jakarta : Balai Pustaka ).17
[3] http://muhfida.com/pengertian-pembelajaran-secara-khusus

Rabu, 19 Oktober 2011

Keistimewaan Bahasa Arab


A. PENDAHULUAN
Tidak bisa dipungkiri kalau bahasa sebagai alat komunikasi. Dimana dalam berkomunikasi itu harus terjadi saling pengertian diantara dua atau lebih orang yang berkomunikasi. Jadi dalam suatu perkumpulan orang-orang pastilah memiliki bahasa tersendiri sebagai media untuk saling memanhami dengan berkomunikasi.
Bahasa arab sebagai bahasa agama islam. Atau beberapa menyatakan bahwa bahasa Arab itu bahasa Aherat. Salah satu alasan mengapa bahasa Arab dikatakan sebagai bahasa agama islam yaitu karena dalam kitab suci dituliskan ayat-ayat yang berbahasa Arab.
Kemudian munculah berbagai pertanyaan, mengapa diturunkannya kitab Al Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab? Dalam makalah ini akan dibahas beberapa keistimawaan Bahasa Arab yang menjadikan perhatian tersendiri dan wajib kita ketahui.

B. PEMBAHASAN
1. Bahasa Arab dalam Agama
Al Qur’an sebagai sumber agama Islam dituliskan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab bagi kaum muslimin merupakan suatu kebutuhan yang sangat utama. Selain itu juga dengan mempelajarinya merupakan tujuan suci yaitu untuk memperdalam pemahaman ajaran agama Islam dari sumbernya yang asli.
Mempelajari Bahasa Arab juga berarti membina kemampuan memahami fikiran-fikiran ulama terdahulu guna pengembangan alam fikiran para ulama pada masa kini, sehingga mampu menjawab masalah-masalah keagamaan baik yang telah diuraikan oleh para ulama terdahulu maupun masalah-masalah yang timbul pada masa sekarang. Adapun salah satu persyaratan seorang ulama adalah mengerti dan memahami bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an, hadis dan kitab-kitab agama lainnya yang ditulis dalam Bahasa Arab.
Pengucapan Bahasa Arab juga dilakukan saat umat islam melakukan ibadah,  yang hendaknya memberi pengaruh bagi pembinaan akhlak dan sikap mental dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat terwujud jika muslim yang beribadah itu memahami makna dan menghayati arti dari ibadah yang dilakukan.

2. Bahasa Arab dalam Ilmu Pengetahuan
Salah satu hadis yang menyatakan bahwa, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. Dan siapa pun tahu bahwa selama beberapa abad dalam zaman pertengahan bahasa Arab selain sebagai bahasa agama, juga merupakan bahasa yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan diseluruh bagian dunia peradaban.
Dahulu, Eropa dijuluki dalam “Abad Kegelapan” karena kehidupan bangsa-bangsa di sana sangat dipengaruhi oleh kebekuan gereja yang bersikap tidak terbuka terhadap ilmu dan filsafat Yunani yang dianggap berbahaya bagi agama Masehi. Hal ini terbukti dengan ditutupnya lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani seperti yang terjadi di Athena.
Ahli-ahli filsafat Yunani dianggap kufur dan murtad dari agama Masehi, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami siksaan dan hukuman yang cukup berat karena kekuasaan gereja pada waktu itu sekaligus adalah kekuasaan dalam pemerintahan. Keadaan ini menyebabkan sebagian diantara mereka melarikan diri berpindah ke Asia dan menetap di Syiria, Irak dan tempat-tempat dimana mereka bebas mengajarkan ilmu dan filsafat Yunani.
Setelah Negara-negara dimana terdapat kebebasan untuk mempelajari ilmu dan filsafat Yunani tersebut masuk ke dalam kekuasaan Khilafah Islamiyah, maka ilmu dan filsafat Yunani diwarisi oleh umat Islam. Terdorong oleh ajaran agama untuk mempelajari ilmu pengetahuan maka orang-orang islam mempelajari ilmu dan filsafat Yunani dengan kesungguhan dan ketekunan terutama peluang itu diperoleh pada masa Khalifah Abbasiyah.
Akibat sikap gereja yang tidak terbuka serta tindakannya yang keras terhadap peradaban Yunani, maka dunia Barat menjadi sunyi dari ilmu dan filsafat Yunani, kecuali tentang ilmu agama Masehi. Untunglah bahwa ketika dunia Barat dalam keadaan kegelapan semacam itu, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dapat dipeelihara dan dikembangkan oleh umat islam di timur yang kemudian pada zaman kebangkitan (Renaissance) dunia barat, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani itu diambil alih kembali dari umat islam baik di Asia maupun disebagian Eropa sendiri.
Sebelum para cendekiawan muslim dapat melahirkan ilmu pengetahuan yang asli berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, terlebih dahulu mereka melalui suatu abad yang dikenal dengan abad terjemah, yaitu pada masa Khilafah Abasiyah (132-656 H atau 750-1258 M) dimana dilakukan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Abad ini dibagi menjadi tiga fase sebagai berikut:
a. Fase Pertama
Dimulai pada masa khalifah Al Mansur (136-158 H atau 754-775 M) sampai akhir khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini diterjemahkan buku-buku Aristoteles tentang ilmu logika (mantiq), buku Al Majisti tentang ilmu falak (astronomi), buku kesustraan Persia “Kalilah wa Dimnah” dan “Sinhind” (India) ke dalam bahasa Arab. Penerjemah pada masa ini adalah Ibnu Muqaffa’, Jirjis bin Jibrail dan Yuhanna bin Batriq.
b. Fase Kedua
Penerjemahan yang dilakukan pada masa pemerintah Khalifah Al Ma’mun (198-218 H atau 813-833M). Buku-buku filsafat Aristoteles dan buku-buku filsafat Yunani lainnya banyak diterjemahkan. Sejumlah karangan Socrates, Plato dan Galinus diterjemahkan oleh Hunain bin Ishaq, sebagian besar buku-buku Aristoteles diterjemahkan juga olehnya. Disamping itu, buku Al Majisti diulang kembali penerjemahannya. Penerjemah yang terkenal pada fase ini, disamping Hunain Bin Ishaq dan Ishaq bin Hunain ialah Yohanna, Yahya Bitriq, Hijjaj bin Yusuf, Qusta bin Luqa, Al Baihaqi, Tsabit bin Qurrah, dll.
c. Fase Ketiga
Fase ketiga adalah fase setelah Khalifah al Ma’mun. Buku-buku yang diterjemahkan pada fase ini adalah mengenai ilmu logika (mantiq) dan ilmu alam karya Aristoteles. Adapun penerjemah yang dikenal pada fase ini adalah Matta bin Yunus, Sinain bin Tsabit bin Qurrah, Yahya bin ‘Adi dan Ibnu Zuhrah.

Dapat dikatakan bahwa hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu pasti, ilmu kimia dan sastra yang dikenal pada masa itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Dengan perkataan lain, masa pertama adalah masa menerjemahkan dan masa kedua adalah masa mengarang dan mencipta. Setelah abad terjemah selesai kemudian kaum muslim giat mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat yang telah diterjemahkan itu, sehingga pada abad ke III H lahirlah filosof Islam pertama, yaitu Abu Yusuf Ja’kub bin Ishak Al Kindi (796-873 M).
Adapun faktor-faktor yang mendorong penerjemahan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan pada zaman Abbasiyah yaitu:
1. Keadaan pertahanan dan keamanan pemerint an berangsur-angsur menjadi baik pada zaman Khalifah Abbasiyah, sehingga pemerintah menjadi kuat, stabil dan memberikan peluang untuk mulai bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan terutama pada zaman khalifah Harun ar Rasyid dan Khalifah Al Ma’mun.
2. Tuntunan dan tantangan zaman pada waktu itu menghendaki perkembangan cara berfikir sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan pemikiran keagamaan yang dapat diterima oleh tingkat kemajuan berfikir. Oleh karena itu, filsafat dan ilmu mantiq sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan masalah-masalah yang berkenaan dengan aqidah secara logis. Ditambah lagi kebutuhan untuk melaksanakan kewajiban beribadah yang tertentu seperti salat, puasa, naik haji dan sebagainya merupakan faktor pendukung untuk mempelajari ilmu falaq.
3. Khalifah-khalifah Abbasiyah seperti Al Ma’mun, Harun ar Rasyid dan Al Manshur menaruh perhatian besar terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan. Khalifah sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan memberikan bantuan, fasilitas dan penghargaan kepada para penerjemah.

Pada zaman berikutnya, buku-buku terjemahan tersebut beserta tafsiran dan penjelasan penjelasannya dibuat oleh para cendekiawan muslim menjadi buku-buku pegangan (reference) yang sangat diperlukan oleh dunia barat pada masa kebangkitan dimana dunia Kristen di Barat dihadapkan kepada kebutuhan untuk memahami soal-soal keagamaan yang tidak cukup hanya bersifat dogmatis semata akan tetapi perlu pemahaman secara rasional.
Pada abad ke XIII beberapa sarjana Kristen yang maju dalam cara berpikir, mengetahui bahwa jawaban atas persoalan mengenai kedudukan Tuhan dalam alam semesta, mengenai roh dan lain-lain terdapat dalam tulisan-tulisan berbahasa Arab. Oleh karena itu, naskah-naskah dalam bahasa Arab dianggap perlu untuk diterjemahkan kembalike dalam bahasa Barat termassuk tafsiran-tafsiran karanga Aristoteles, karya Al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Abu Nasr Muhammad Al Farabi (872-950 M) disamping menerjemahkan karangan-karangan Aristoteles juga member tafsirannya tentang etika ddan ilmu jiwa. Sebagai filusuf besar ia menulis sejumlah besar karangan asli antara lain tentang ilmu jiwa, metafisika dan teori ilmu music timur. Karangan-karangan al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd tentang teori music telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan menjadi buku-buku pelajaran di Eropa Barat. Al Farabi mengarang pula buku “Ihsha’ul Ulum” mengenai ilmu pengetahuan yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan sangat berpengaruh di Barat.
Ibnu Sina (980-1037 M) yang dikenal di dunia Barat dengan nama Avicena adalah seorang pujangga muslim yang tulisannya menarik dan mengagumkan. Karangannya yang pertama berjudul “Al Majmu” memuat berbagai ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, fisika, matematika dan ilmu jiwa. Jumlah karangan Ibmu Sina (menurut Collier’s Encyclopedia dan Chamber’s Encyclopedia) lebih dari 100 buah, antara lain yang terpenting adalah “Al Qanun” mengenai ilmu kedokteran dan “Asy- Syifaa” mengenai ilmu filsafat. “Al Qanun” terdiri dari lima jilid yang mengandung sejuta perkataan. Buku ini merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran yang menguasai dunia pengobatan di Eropa selama lima abad, jauh lebih lama dari buku ahli kedokteran Yunani karangan Galius. Al Qanun diterjemahkan dari bahasa arab ke bahasa latin oleh Gerad of Gremona (Italia) dan berdasarkan terjemahannya itu Universitas Louvin dan Monthpellier di Prancis tetap mempergunakan sebagai textbook sampai tahun 1650. Gambar Ibnu Sina dipajang menghiasi dinding aula fakultas kedokteran Universitas Paris sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dibidang kedokteran.
Ibnu Rusyd (1126-1198M) yang dikenal di Barat dengan nama Averroes telah menggoncangkan Eropa dengan gerakan rasionalismenya yang merupakan aliran berpengaruh dan hidup dalam perkembangan proses berfikir orang-orang Eropa sejak abad XII sampai akhir abad XVI. Ibnu Rusyd telah memberi sumbangan fikirannya terhadap ilmu kedokteran dengan sebuah buku yang berjudul “Al-Kuliyat Fiththib”. Dalam buku ini antara lain dikemukakan bahwa tak seorang pun kena penyakit cacar dua kali dan fung selaput jala (rotina) difahami benar-benar.
Meskipun dunia Barat tidak seluruhnya setuju terhadap beberapa ajaran sarjana Arab, tetapi mereka membutuhkannya karena ajaran-ajaran itu mengandung nilai ilmiah tentang filsafat, ilmu pasti, ilmu astronomi dan pengetahuan lain yang ada waktu itu. Juatru karena ajaran itulah para cendekiawan Eropa lambat laun mulai memperkembangkan sikap obyektif terhadap ilmu pengetahuan yang menjiwai zaman Renaissance.
Dari Al Chawarizmi orang Eropa belajar angka-angka Arab, ilmu aljabar dan table-tabel ilmu falak yang pada waktu itu paling dapat dipertahankan dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol oleh orang Inggris bernama Adelard dari Bath.
Pusat pertama tempat orang Eropa mempelajari ilmu pengetahuan yang ditulis dalam Bahasa Arab, didirikan di Toledo (Spanyol) dibawah pimpinan Uskup Agung Raymond. Ia adalah Uskup Besar Gereja Katolik di Spanyol yang berkat usahanya maka karya-karya dalam tulisan Bahasa Arab dapat dipelajari kaum Kristen.
Kalau dalam zaman Al Ma’mun, Hunain bin Ishaq diserahi “Baitul Hikmah” sebagai penanggung jawab penerjemahan buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dan bahasa Yunani atau Persi ke dalam bahasa Arab, maka Uskup Agung Raymond mengakat Dominico Gondisalvi sebagai pemimpin penterjemah berbagai buku berbahasa Arab kedalam bahasa latin. Usaha Uskup Agung Raymond mengenai penerjemahan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan yang berpusat di Toledo itu banyak menarik perhatian para sarjana diseluruh bagian Eropa, antara lain:
a. Robert Chaster (Inggris) menerjemahkan karangan Jabir mengenai ilmu Kimia dan karangan Al Khawarizmi mengenai aljabar kedalam bahasa Latin.
b. Herman dan Dalmati bersama seorang Arab yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Latin untuk diserahkan kepada Peter kepala Biara di Cluni (Prancis Timur)
c. Michael (Skotlandia) menerjemahkan karangan Ibnu Sina, karangan Al Bitruji mengenai astronomi, karya Ibnu Sina mengenai ilmu hewan dan beberapa karangan Aristoteles yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Dalam bidang kesustraan, dunia Barat pun mendapatkan banyak pelajaran dari karya bangsa Arab. Buku cerita “Seribu Satu Malam” memberikan pengaruh yang kuat terhadap kesustraan Barat. Buku ini telah mengilhami orang Barat mengarang cerita-cerita seperti Resels karangan Samuel Johnson. Karya Ibnu Tufail dalam “Haiy bin Yaqdhan” telah mengilhami cerita Robinson Crosoe.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam abad ke XX ini bahasa Arab telah berkembang sebagai bahasa untuk menguraikan berbagai cabang ilmu pengetahuan baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, bahasa pengantar perkuliahan dalam berbagai fakultas seperti fakultas Ekonomi, Sosial Politik, teknik dan kedokteran dari berbagai universits di Negara-negara Arab adalah dalam bahasa Arab, begitu pula buku-buku yang dipergunakan kebanyakan dalam Bahasa Arab.
Dengan demikian mempelajari bahasa Arab merupakan kunci untuk memahami dan mendalami sejarah perkembangan peradaban dunia muslim pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya. Bahkan dasar ilmu pengetahuan lama itu dijadikan batu loncatan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad XX ini.

3. Bahasa Arab dalam Hubungan Internasional
Dunia Arab terdri dari beberapa Negara dengan bentuk dan system pemerintahan masing-masing. Walaupun terdapat perbedaan kepentingan antar Negara satu dengan yang lain, namun mereka merasa ada di dalam satu ikatan yang antara lain disebabkan oleh adanya ikatan kesatuan bahasa yaitu bahasa Arab. Disamping itu gerakan nasionalisme Arab juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap kedasaran dan keinsafan sebagai suatu bangsa.
Sebagai salah satu hasil dari gerakan nasionalisme Arab ini tampak dalam bidang pengetahuan Bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu yang digunakan diseluruh pelosok dunia Arab sehingga orang-orang Aljazair yang sudah banyak mempergunakan bahasa Prancis sejak lepas dari penjajahan Prancis secara otomatis mewajibkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.Dengan demikian seluruh Negara Arab menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang dipergunakan dalam administrasi Negara, surat-menyurat dan nota diplomatic dari Departemen Luar Negeri Negara-negara Arab. Sedangkan bahasa Inggris dan Prancis hanya dipakai sebagai terjemahan dari naskah aslinya. Adapun bahasa percakapan sehari-hari dari Negara-negara Arab umumnya mempergunakan dialek menurut tempat masing-masing sedangkan surat-surat kabar dan majalah-majalah mempergunakan bahasa Arab Fusha modern.
Dalam dunia diplomasi pada organisasi-organisasi internasional dikalangan dunia islam seperti Mu’tamar Alam Islam, Rabthah Alam Islam dan lain-lain organisasi islam internasional semua kegiatan yang dilakukan tak dapat lepas dari penggunaan Bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tertulis.
Pada tahun 1973 untuk pertama kalinya bahasa Arab dijadikan bahasa resmi dalam lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pidato-pidato, pembicaraan daan perdebatan di forum PBB diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab sejajar dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Pemaakaian bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi dalam PBB menempatkan bahasa Arab untuk berperan sebagai salah satu alat komunikasi dalam hubungan diplomasi internasional didukung oleh makin besarnya peranan Negara-negara Arab penghasil minyak dalam dunia perekonomian internasional menambah perhatian dunia terhadap pengajaran Bahasa Arab.

4. Bahasa Arab dalam Kebudayaan Nasional
Kedudukan dan peranan Bahasa Arab di masyarakat dan kebudayaan Indonesia telah mengambil bagian penting sejak berkembangnya agama Islam di Nusantara pada abad XIII. Sampai saat ini masih dirasakan dan dapat dilihat bahwa bahasa Arab tidak hanya merupakan bahasa agama islam yang hidup dalam lingkungan ulama, pesantren, madrasah, cendekiawan dan masyarakat islam, akan tetpi bahasa Arab juga telah turut membina dan mengembangkan bahasa Indonesia ataupun bahasa-bahasa daerah, terutama dalam perbendaharaan kosa kata.
Beberapa ungkapan dalam bahasa Arab yang diambil dari ajaran agama Islam sering digunakan baik dalam forum resmi maupun tidak resmi seperti ucapan salam, “Assalamu’alaikum”, “Bismillahirrahmanirrahim”, “Alhamdulillah”, “Masyaallah”, “Insya Allah” dan sebagainya.
Pada zaman penjajahan Belanda sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, tulisan Arab telah dipergunakan dalam surat-menyurat. Bahkan di kampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan banyak orang yang masih buta huruf tulisan latin tetapi merka tidak buta huruf tulisan Arab. Ini dikarenakan mereka dapat membaca tulisan Arab untuk membaca Al Qur’an maupun membaca surat dalam bahasa daerah dengan tulisan Arab. Oleh karena itu untuk menyesuaikan huruf Arab dengan ejaan Indonesia atau bahasa Daerah yang ditulis dengan ejaan Indonesia ada penambahan tanda baca baru yang tidak terdapat dalam bahasa Arab yang berlaku di Negara Arab seperti : huruf p ditulis huruf fa bertitik tiga, ng ditulis dengan ‘ain bertitik tiga, ny ditulis ya bertitik tiga di bawahnya atau nun bertitik tiga.
Dengan mendalami Bahasa Arab, perasaan agama islam pada sebagian besar bangsa Indonesia, maka penggunaan kalimat-kalimat yang berisi ayat-ayat Al Qur’an atau hadits Nabi SAW sering kali dijumpai pada bangunan masjid dan di rumah-rumah kaum muslim yang difungsikan sebagai hiasan dinding. Bukan hanya itu, sekarang saja di kendaraan umum maupun pribadi tertera tulisan, “Bismillahirrahmanirrahim”. Ini juga berisi anjuran atau peringatan tentang ajaran Islam yang terkandung didalamnya.
Kesustraan Indonesia pada zaman pujangga lama banyak ditulis dengan huruf Arab Melayu yang banyak menggunakan kata-kata berasal dari bahasa Arab, maka mempelajari bahasa Arab dapat menjadi kunci untuk menggali kesustraan Indonesia lama. Karen banyaknya kata-kata Arab yang digunakan atau yang telah diambil  menjadi kata-kata dalam bahasa Indonesia sekarang. Maka mempelajari bahasa Arab juga menjadi kunci untuk mempelajari pengetahuan kesustraan Indonesia lama dan pengembangan kosa kata yang diperlukan dalam perkembangan bahasa Indonesia pada masa sekarang.

5. Bahasa Arab sebagai Bahasa Paling Tua
Sebagai bahasa yang sudah tua dan tetap digunakan umat manusia hingga hari ini, wajar pula bila bahasa Arab memiliki kosa kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling menakjubkan. Kata unta yang dalam bahasa Indonesia hanya ada satu padanannya, ternyata punya 800 persamaan kata dalam bahasa arab, yang semuanya mengacu kepada satu hewan unta. Sedangkan kata 'anjing' memiliki 100-an padanan kata.
Fenomena seperti ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini. Dan hanya ada di dalam bahasa arab, karena faktor usia bahasa arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini. Dengan alasan ini maka wajar pula bila Allah SWT memilih bahasa Arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur'an.

6. Bahasa Arab tetap eksis
Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah. Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan 'mbah buyut'-nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?
Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.
Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa 'ngobrol ngalor ngidul' hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.
Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur'an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur'an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

7. Bahasa Arab memiliki informasi yang padat dalam huruf yang singkat
Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.
Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur'an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz 'ain dalam bahasa arab artinya 'mata', ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.
Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga.

8. Bahasa Arab mudah dihafal
Sesuai dengan fungsi Al-Qur'an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur'an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.
Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa itu mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.
Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokumentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

9. Keindahan sastra Bahasa Arab
Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.
Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Solo. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.
Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur'an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.Bahkan para2 syekh2 atau orang yg bnar2 paham bahasa Arab kita lihat bila sholat atau berdoa smpai menangis.Kita semua tahu kisah2 ttg Rasulullah dan sahabat2 beliau waktu menangis saat membaca Al Quran,bahkan kita tahu Umar Ibn Khattab yang pribadinya keras(sebelum masuk islam) hatinya luluh saat mendengar QS Toha dibacakan.
Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Alloh SWT berfirman dengan bahasa arab.

C. PENUTUP
Dengan memperhatikan beberapa penjelasan seperti dijelaskan diatas maka dalam mempelajari Bahasa Arab di Indonesia tidak hanya bermanfaat untuk memahami ajaran agama Islam dan kebudayaan Islam tapi juga bermanfaat untuk mengetahui pengaruh dan peranan bahasa Arab dalam perkembangan kebudayaan nasional Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama islam. Begitu dengan bahasa Arab sendiri yang demikian unik dan harus dikuasai oleh setiap muslim.

D. DAFTAR PUSTAKA
Sumardi, Mulyanto dan Kafrawi, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta, 1976.
Anshor, Ahmad Muhtadi, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-Metodenya, Yogyakarta : Sukses Offset, 2009
Allamudin al Faruq, Kelebihan Bahasa Arab dengan Bahasa yang Lain, Browser blog. 2010