Rabu, 19 Oktober 2011

Keistimewaan Bahasa Arab


A. PENDAHULUAN
Tidak bisa dipungkiri kalau bahasa sebagai alat komunikasi. Dimana dalam berkomunikasi itu harus terjadi saling pengertian diantara dua atau lebih orang yang berkomunikasi. Jadi dalam suatu perkumpulan orang-orang pastilah memiliki bahasa tersendiri sebagai media untuk saling memanhami dengan berkomunikasi.
Bahasa arab sebagai bahasa agama islam. Atau beberapa menyatakan bahwa bahasa Arab itu bahasa Aherat. Salah satu alasan mengapa bahasa Arab dikatakan sebagai bahasa agama islam yaitu karena dalam kitab suci dituliskan ayat-ayat yang berbahasa Arab.
Kemudian munculah berbagai pertanyaan, mengapa diturunkannya kitab Al Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab? Dalam makalah ini akan dibahas beberapa keistimawaan Bahasa Arab yang menjadikan perhatian tersendiri dan wajib kita ketahui.

B. PEMBAHASAN
1. Bahasa Arab dalam Agama
Al Qur’an sebagai sumber agama Islam dituliskan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab bagi kaum muslimin merupakan suatu kebutuhan yang sangat utama. Selain itu juga dengan mempelajarinya merupakan tujuan suci yaitu untuk memperdalam pemahaman ajaran agama Islam dari sumbernya yang asli.
Mempelajari Bahasa Arab juga berarti membina kemampuan memahami fikiran-fikiran ulama terdahulu guna pengembangan alam fikiran para ulama pada masa kini, sehingga mampu menjawab masalah-masalah keagamaan baik yang telah diuraikan oleh para ulama terdahulu maupun masalah-masalah yang timbul pada masa sekarang. Adapun salah satu persyaratan seorang ulama adalah mengerti dan memahami bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an, hadis dan kitab-kitab agama lainnya yang ditulis dalam Bahasa Arab.
Pengucapan Bahasa Arab juga dilakukan saat umat islam melakukan ibadah,  yang hendaknya memberi pengaruh bagi pembinaan akhlak dan sikap mental dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat terwujud jika muslim yang beribadah itu memahami makna dan menghayati arti dari ibadah yang dilakukan.

2. Bahasa Arab dalam Ilmu Pengetahuan
Salah satu hadis yang menyatakan bahwa, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. Dan siapa pun tahu bahwa selama beberapa abad dalam zaman pertengahan bahasa Arab selain sebagai bahasa agama, juga merupakan bahasa yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan diseluruh bagian dunia peradaban.
Dahulu, Eropa dijuluki dalam “Abad Kegelapan” karena kehidupan bangsa-bangsa di sana sangat dipengaruhi oleh kebekuan gereja yang bersikap tidak terbuka terhadap ilmu dan filsafat Yunani yang dianggap berbahaya bagi agama Masehi. Hal ini terbukti dengan ditutupnya lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani seperti yang terjadi di Athena.
Ahli-ahli filsafat Yunani dianggap kufur dan murtad dari agama Masehi, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami siksaan dan hukuman yang cukup berat karena kekuasaan gereja pada waktu itu sekaligus adalah kekuasaan dalam pemerintahan. Keadaan ini menyebabkan sebagian diantara mereka melarikan diri berpindah ke Asia dan menetap di Syiria, Irak dan tempat-tempat dimana mereka bebas mengajarkan ilmu dan filsafat Yunani.
Setelah Negara-negara dimana terdapat kebebasan untuk mempelajari ilmu dan filsafat Yunani tersebut masuk ke dalam kekuasaan Khilafah Islamiyah, maka ilmu dan filsafat Yunani diwarisi oleh umat Islam. Terdorong oleh ajaran agama untuk mempelajari ilmu pengetahuan maka orang-orang islam mempelajari ilmu dan filsafat Yunani dengan kesungguhan dan ketekunan terutama peluang itu diperoleh pada masa Khalifah Abbasiyah.
Akibat sikap gereja yang tidak terbuka serta tindakannya yang keras terhadap peradaban Yunani, maka dunia Barat menjadi sunyi dari ilmu dan filsafat Yunani, kecuali tentang ilmu agama Masehi. Untunglah bahwa ketika dunia Barat dalam keadaan kegelapan semacam itu, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dapat dipeelihara dan dikembangkan oleh umat islam di timur yang kemudian pada zaman kebangkitan (Renaissance) dunia barat, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani itu diambil alih kembali dari umat islam baik di Asia maupun disebagian Eropa sendiri.
Sebelum para cendekiawan muslim dapat melahirkan ilmu pengetahuan yang asli berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, terlebih dahulu mereka melalui suatu abad yang dikenal dengan abad terjemah, yaitu pada masa Khilafah Abasiyah (132-656 H atau 750-1258 M) dimana dilakukan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Abad ini dibagi menjadi tiga fase sebagai berikut:
a. Fase Pertama
Dimulai pada masa khalifah Al Mansur (136-158 H atau 754-775 M) sampai akhir khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini diterjemahkan buku-buku Aristoteles tentang ilmu logika (mantiq), buku Al Majisti tentang ilmu falak (astronomi), buku kesustraan Persia “Kalilah wa Dimnah” dan “Sinhind” (India) ke dalam bahasa Arab. Penerjemah pada masa ini adalah Ibnu Muqaffa’, Jirjis bin Jibrail dan Yuhanna bin Batriq.
b. Fase Kedua
Penerjemahan yang dilakukan pada masa pemerintah Khalifah Al Ma’mun (198-218 H atau 813-833M). Buku-buku filsafat Aristoteles dan buku-buku filsafat Yunani lainnya banyak diterjemahkan. Sejumlah karangan Socrates, Plato dan Galinus diterjemahkan oleh Hunain bin Ishaq, sebagian besar buku-buku Aristoteles diterjemahkan juga olehnya. Disamping itu, buku Al Majisti diulang kembali penerjemahannya. Penerjemah yang terkenal pada fase ini, disamping Hunain Bin Ishaq dan Ishaq bin Hunain ialah Yohanna, Yahya Bitriq, Hijjaj bin Yusuf, Qusta bin Luqa, Al Baihaqi, Tsabit bin Qurrah, dll.
c. Fase Ketiga
Fase ketiga adalah fase setelah Khalifah al Ma’mun. Buku-buku yang diterjemahkan pada fase ini adalah mengenai ilmu logika (mantiq) dan ilmu alam karya Aristoteles. Adapun penerjemah yang dikenal pada fase ini adalah Matta bin Yunus, Sinain bin Tsabit bin Qurrah, Yahya bin ‘Adi dan Ibnu Zuhrah.

Dapat dikatakan bahwa hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu pasti, ilmu kimia dan sastra yang dikenal pada masa itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Dengan perkataan lain, masa pertama adalah masa menerjemahkan dan masa kedua adalah masa mengarang dan mencipta. Setelah abad terjemah selesai kemudian kaum muslim giat mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat yang telah diterjemahkan itu, sehingga pada abad ke III H lahirlah filosof Islam pertama, yaitu Abu Yusuf Ja’kub bin Ishak Al Kindi (796-873 M).
Adapun faktor-faktor yang mendorong penerjemahan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan pada zaman Abbasiyah yaitu:
1. Keadaan pertahanan dan keamanan pemerint an berangsur-angsur menjadi baik pada zaman Khalifah Abbasiyah, sehingga pemerintah menjadi kuat, stabil dan memberikan peluang untuk mulai bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan terutama pada zaman khalifah Harun ar Rasyid dan Khalifah Al Ma’mun.
2. Tuntunan dan tantangan zaman pada waktu itu menghendaki perkembangan cara berfikir sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan pemikiran keagamaan yang dapat diterima oleh tingkat kemajuan berfikir. Oleh karena itu, filsafat dan ilmu mantiq sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan masalah-masalah yang berkenaan dengan aqidah secara logis. Ditambah lagi kebutuhan untuk melaksanakan kewajiban beribadah yang tertentu seperti salat, puasa, naik haji dan sebagainya merupakan faktor pendukung untuk mempelajari ilmu falaq.
3. Khalifah-khalifah Abbasiyah seperti Al Ma’mun, Harun ar Rasyid dan Al Manshur menaruh perhatian besar terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan. Khalifah sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan memberikan bantuan, fasilitas dan penghargaan kepada para penerjemah.

Pada zaman berikutnya, buku-buku terjemahan tersebut beserta tafsiran dan penjelasan penjelasannya dibuat oleh para cendekiawan muslim menjadi buku-buku pegangan (reference) yang sangat diperlukan oleh dunia barat pada masa kebangkitan dimana dunia Kristen di Barat dihadapkan kepada kebutuhan untuk memahami soal-soal keagamaan yang tidak cukup hanya bersifat dogmatis semata akan tetapi perlu pemahaman secara rasional.
Pada abad ke XIII beberapa sarjana Kristen yang maju dalam cara berpikir, mengetahui bahwa jawaban atas persoalan mengenai kedudukan Tuhan dalam alam semesta, mengenai roh dan lain-lain terdapat dalam tulisan-tulisan berbahasa Arab. Oleh karena itu, naskah-naskah dalam bahasa Arab dianggap perlu untuk diterjemahkan kembalike dalam bahasa Barat termassuk tafsiran-tafsiran karanga Aristoteles, karya Al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Abu Nasr Muhammad Al Farabi (872-950 M) disamping menerjemahkan karangan-karangan Aristoteles juga member tafsirannya tentang etika ddan ilmu jiwa. Sebagai filusuf besar ia menulis sejumlah besar karangan asli antara lain tentang ilmu jiwa, metafisika dan teori ilmu music timur. Karangan-karangan al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd tentang teori music telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan menjadi buku-buku pelajaran di Eropa Barat. Al Farabi mengarang pula buku “Ihsha’ul Ulum” mengenai ilmu pengetahuan yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan sangat berpengaruh di Barat.
Ibnu Sina (980-1037 M) yang dikenal di dunia Barat dengan nama Avicena adalah seorang pujangga muslim yang tulisannya menarik dan mengagumkan. Karangannya yang pertama berjudul “Al Majmu” memuat berbagai ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, fisika, matematika dan ilmu jiwa. Jumlah karangan Ibmu Sina (menurut Collier’s Encyclopedia dan Chamber’s Encyclopedia) lebih dari 100 buah, antara lain yang terpenting adalah “Al Qanun” mengenai ilmu kedokteran dan “Asy- Syifaa” mengenai ilmu filsafat. “Al Qanun” terdiri dari lima jilid yang mengandung sejuta perkataan. Buku ini merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran yang menguasai dunia pengobatan di Eropa selama lima abad, jauh lebih lama dari buku ahli kedokteran Yunani karangan Galius. Al Qanun diterjemahkan dari bahasa arab ke bahasa latin oleh Gerad of Gremona (Italia) dan berdasarkan terjemahannya itu Universitas Louvin dan Monthpellier di Prancis tetap mempergunakan sebagai textbook sampai tahun 1650. Gambar Ibnu Sina dipajang menghiasi dinding aula fakultas kedokteran Universitas Paris sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dibidang kedokteran.
Ibnu Rusyd (1126-1198M) yang dikenal di Barat dengan nama Averroes telah menggoncangkan Eropa dengan gerakan rasionalismenya yang merupakan aliran berpengaruh dan hidup dalam perkembangan proses berfikir orang-orang Eropa sejak abad XII sampai akhir abad XVI. Ibnu Rusyd telah memberi sumbangan fikirannya terhadap ilmu kedokteran dengan sebuah buku yang berjudul “Al-Kuliyat Fiththib”. Dalam buku ini antara lain dikemukakan bahwa tak seorang pun kena penyakit cacar dua kali dan fung selaput jala (rotina) difahami benar-benar.
Meskipun dunia Barat tidak seluruhnya setuju terhadap beberapa ajaran sarjana Arab, tetapi mereka membutuhkannya karena ajaran-ajaran itu mengandung nilai ilmiah tentang filsafat, ilmu pasti, ilmu astronomi dan pengetahuan lain yang ada waktu itu. Juatru karena ajaran itulah para cendekiawan Eropa lambat laun mulai memperkembangkan sikap obyektif terhadap ilmu pengetahuan yang menjiwai zaman Renaissance.
Dari Al Chawarizmi orang Eropa belajar angka-angka Arab, ilmu aljabar dan table-tabel ilmu falak yang pada waktu itu paling dapat dipertahankan dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol oleh orang Inggris bernama Adelard dari Bath.
Pusat pertama tempat orang Eropa mempelajari ilmu pengetahuan yang ditulis dalam Bahasa Arab, didirikan di Toledo (Spanyol) dibawah pimpinan Uskup Agung Raymond. Ia adalah Uskup Besar Gereja Katolik di Spanyol yang berkat usahanya maka karya-karya dalam tulisan Bahasa Arab dapat dipelajari kaum Kristen.
Kalau dalam zaman Al Ma’mun, Hunain bin Ishaq diserahi “Baitul Hikmah” sebagai penanggung jawab penerjemahan buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dan bahasa Yunani atau Persi ke dalam bahasa Arab, maka Uskup Agung Raymond mengakat Dominico Gondisalvi sebagai pemimpin penterjemah berbagai buku berbahasa Arab kedalam bahasa latin. Usaha Uskup Agung Raymond mengenai penerjemahan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan yang berpusat di Toledo itu banyak menarik perhatian para sarjana diseluruh bagian Eropa, antara lain:
a. Robert Chaster (Inggris) menerjemahkan karangan Jabir mengenai ilmu Kimia dan karangan Al Khawarizmi mengenai aljabar kedalam bahasa Latin.
b. Herman dan Dalmati bersama seorang Arab yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Latin untuk diserahkan kepada Peter kepala Biara di Cluni (Prancis Timur)
c. Michael (Skotlandia) menerjemahkan karangan Ibnu Sina, karangan Al Bitruji mengenai astronomi, karya Ibnu Sina mengenai ilmu hewan dan beberapa karangan Aristoteles yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Dalam bidang kesustraan, dunia Barat pun mendapatkan banyak pelajaran dari karya bangsa Arab. Buku cerita “Seribu Satu Malam” memberikan pengaruh yang kuat terhadap kesustraan Barat. Buku ini telah mengilhami orang Barat mengarang cerita-cerita seperti Resels karangan Samuel Johnson. Karya Ibnu Tufail dalam “Haiy bin Yaqdhan” telah mengilhami cerita Robinson Crosoe.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam abad ke XX ini bahasa Arab telah berkembang sebagai bahasa untuk menguraikan berbagai cabang ilmu pengetahuan baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, bahasa pengantar perkuliahan dalam berbagai fakultas seperti fakultas Ekonomi, Sosial Politik, teknik dan kedokteran dari berbagai universits di Negara-negara Arab adalah dalam bahasa Arab, begitu pula buku-buku yang dipergunakan kebanyakan dalam Bahasa Arab.
Dengan demikian mempelajari bahasa Arab merupakan kunci untuk memahami dan mendalami sejarah perkembangan peradaban dunia muslim pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya. Bahkan dasar ilmu pengetahuan lama itu dijadikan batu loncatan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad XX ini.

3. Bahasa Arab dalam Hubungan Internasional
Dunia Arab terdri dari beberapa Negara dengan bentuk dan system pemerintahan masing-masing. Walaupun terdapat perbedaan kepentingan antar Negara satu dengan yang lain, namun mereka merasa ada di dalam satu ikatan yang antara lain disebabkan oleh adanya ikatan kesatuan bahasa yaitu bahasa Arab. Disamping itu gerakan nasionalisme Arab juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap kedasaran dan keinsafan sebagai suatu bangsa.
Sebagai salah satu hasil dari gerakan nasionalisme Arab ini tampak dalam bidang pengetahuan Bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu yang digunakan diseluruh pelosok dunia Arab sehingga orang-orang Aljazair yang sudah banyak mempergunakan bahasa Prancis sejak lepas dari penjajahan Prancis secara otomatis mewajibkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.Dengan demikian seluruh Negara Arab menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang dipergunakan dalam administrasi Negara, surat-menyurat dan nota diplomatic dari Departemen Luar Negeri Negara-negara Arab. Sedangkan bahasa Inggris dan Prancis hanya dipakai sebagai terjemahan dari naskah aslinya. Adapun bahasa percakapan sehari-hari dari Negara-negara Arab umumnya mempergunakan dialek menurut tempat masing-masing sedangkan surat-surat kabar dan majalah-majalah mempergunakan bahasa Arab Fusha modern.
Dalam dunia diplomasi pada organisasi-organisasi internasional dikalangan dunia islam seperti Mu’tamar Alam Islam, Rabthah Alam Islam dan lain-lain organisasi islam internasional semua kegiatan yang dilakukan tak dapat lepas dari penggunaan Bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tertulis.
Pada tahun 1973 untuk pertama kalinya bahasa Arab dijadikan bahasa resmi dalam lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pidato-pidato, pembicaraan daan perdebatan di forum PBB diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab sejajar dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Pemaakaian bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi dalam PBB menempatkan bahasa Arab untuk berperan sebagai salah satu alat komunikasi dalam hubungan diplomasi internasional didukung oleh makin besarnya peranan Negara-negara Arab penghasil minyak dalam dunia perekonomian internasional menambah perhatian dunia terhadap pengajaran Bahasa Arab.

4. Bahasa Arab dalam Kebudayaan Nasional
Kedudukan dan peranan Bahasa Arab di masyarakat dan kebudayaan Indonesia telah mengambil bagian penting sejak berkembangnya agama Islam di Nusantara pada abad XIII. Sampai saat ini masih dirasakan dan dapat dilihat bahwa bahasa Arab tidak hanya merupakan bahasa agama islam yang hidup dalam lingkungan ulama, pesantren, madrasah, cendekiawan dan masyarakat islam, akan tetpi bahasa Arab juga telah turut membina dan mengembangkan bahasa Indonesia ataupun bahasa-bahasa daerah, terutama dalam perbendaharaan kosa kata.
Beberapa ungkapan dalam bahasa Arab yang diambil dari ajaran agama Islam sering digunakan baik dalam forum resmi maupun tidak resmi seperti ucapan salam, “Assalamu’alaikum”, “Bismillahirrahmanirrahim”, “Alhamdulillah”, “Masyaallah”, “Insya Allah” dan sebagainya.
Pada zaman penjajahan Belanda sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, tulisan Arab telah dipergunakan dalam surat-menyurat. Bahkan di kampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan banyak orang yang masih buta huruf tulisan latin tetapi merka tidak buta huruf tulisan Arab. Ini dikarenakan mereka dapat membaca tulisan Arab untuk membaca Al Qur’an maupun membaca surat dalam bahasa daerah dengan tulisan Arab. Oleh karena itu untuk menyesuaikan huruf Arab dengan ejaan Indonesia atau bahasa Daerah yang ditulis dengan ejaan Indonesia ada penambahan tanda baca baru yang tidak terdapat dalam bahasa Arab yang berlaku di Negara Arab seperti : huruf p ditulis huruf fa bertitik tiga, ng ditulis dengan ‘ain bertitik tiga, ny ditulis ya bertitik tiga di bawahnya atau nun bertitik tiga.
Dengan mendalami Bahasa Arab, perasaan agama islam pada sebagian besar bangsa Indonesia, maka penggunaan kalimat-kalimat yang berisi ayat-ayat Al Qur’an atau hadits Nabi SAW sering kali dijumpai pada bangunan masjid dan di rumah-rumah kaum muslim yang difungsikan sebagai hiasan dinding. Bukan hanya itu, sekarang saja di kendaraan umum maupun pribadi tertera tulisan, “Bismillahirrahmanirrahim”. Ini juga berisi anjuran atau peringatan tentang ajaran Islam yang terkandung didalamnya.
Kesustraan Indonesia pada zaman pujangga lama banyak ditulis dengan huruf Arab Melayu yang banyak menggunakan kata-kata berasal dari bahasa Arab, maka mempelajari bahasa Arab dapat menjadi kunci untuk menggali kesustraan Indonesia lama. Karen banyaknya kata-kata Arab yang digunakan atau yang telah diambil  menjadi kata-kata dalam bahasa Indonesia sekarang. Maka mempelajari bahasa Arab juga menjadi kunci untuk mempelajari pengetahuan kesustraan Indonesia lama dan pengembangan kosa kata yang diperlukan dalam perkembangan bahasa Indonesia pada masa sekarang.

5. Bahasa Arab sebagai Bahasa Paling Tua
Sebagai bahasa yang sudah tua dan tetap digunakan umat manusia hingga hari ini, wajar pula bila bahasa Arab memiliki kosa kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling menakjubkan. Kata unta yang dalam bahasa Indonesia hanya ada satu padanannya, ternyata punya 800 persamaan kata dalam bahasa arab, yang semuanya mengacu kepada satu hewan unta. Sedangkan kata 'anjing' memiliki 100-an padanan kata.
Fenomena seperti ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini. Dan hanya ada di dalam bahasa arab, karena faktor usia bahasa arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini. Dengan alasan ini maka wajar pula bila Allah SWT memilih bahasa Arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur'an.

6. Bahasa Arab tetap eksis
Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah. Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan 'mbah buyut'-nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?
Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.
Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa 'ngobrol ngalor ngidul' hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.
Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur'an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur'an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

7. Bahasa Arab memiliki informasi yang padat dalam huruf yang singkat
Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.
Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur'an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz 'ain dalam bahasa arab artinya 'mata', ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.
Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga.

8. Bahasa Arab mudah dihafal
Sesuai dengan fungsi Al-Qur'an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur'an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.
Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa itu mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.
Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokumentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

9. Keindahan sastra Bahasa Arab
Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.
Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Solo. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.
Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur'an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.Bahkan para2 syekh2 atau orang yg bnar2 paham bahasa Arab kita lihat bila sholat atau berdoa smpai menangis.Kita semua tahu kisah2 ttg Rasulullah dan sahabat2 beliau waktu menangis saat membaca Al Quran,bahkan kita tahu Umar Ibn Khattab yang pribadinya keras(sebelum masuk islam) hatinya luluh saat mendengar QS Toha dibacakan.
Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Alloh SWT berfirman dengan bahasa arab.

C. PENUTUP
Dengan memperhatikan beberapa penjelasan seperti dijelaskan diatas maka dalam mempelajari Bahasa Arab di Indonesia tidak hanya bermanfaat untuk memahami ajaran agama Islam dan kebudayaan Islam tapi juga bermanfaat untuk mengetahui pengaruh dan peranan bahasa Arab dalam perkembangan kebudayaan nasional Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama islam. Begitu dengan bahasa Arab sendiri yang demikian unik dan harus dikuasai oleh setiap muslim.

D. DAFTAR PUSTAKA
Sumardi, Mulyanto dan Kafrawi, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta, 1976.
Anshor, Ahmad Muhtadi, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-Metodenya, Yogyakarta : Sukses Offset, 2009
Allamudin al Faruq, Kelebihan Bahasa Arab dengan Bahasa yang Lain, Browser blog. 2010

Sabtu, 06 Agustus 2011

Otak Mahasiswa



Siapa yang  tahu makanan khas dari berbagai belahan bumi  Indonesia ?. Yup !!. Lumpia dari semarang, Gudeg dari Yogyakarta, Dodol dan Peuyeum dari Bandung, Coto dari Makasar, Dodol Tape dari Bumiayu, Tempe Kemul dari Wonosobo, Dawet Ayu dari Banjarnegara, Ondol dari Purbalingga, Gethuk dari Sokaraja, apa lagi ya ?. Ah, kamu lebih tau. Itu sih menu lama, bagaimana dengan sekarang ?. Banyak lho menu baru kreasi para pengusaha kuliner untuk menggaet pelanggannya. Dari istilah yang kurang beken sampe yang terkeren. Pernah dengar Jamur Kriuk, Lumpia Bom, Ayam kremes, Bakso Pekih, Bakso Candi?. Wah, Rugi deh kalau belum pernah nyicip. Nggak wajib sih...tapi kudu...!!! (Hehe...sama aja dong.).  
            Berbicara makanan,  jadi ingat koki beken asal Surabaya. Rudi Choirudin (46). Ikhwan ganteng yang karib dengan dapur. Memasak itu memang  nggak cuma keahlian akhwat ya, ikhwan pun bisa. Ada nggak ya ikhwan yang seperti dia ? Sekarang kan banyak tuh, akhwat yang kerja. Paling nggak urusan dapur sudah ada yang hendel (Hehe...). Pernah nonton acara masak-memasak di Indosiar? Tahu Ibu Siska Suwitomo kan? Koki yang nggak kalah hebatnya dengan Rudi. Meramu bumbu lokal sedemikian rupa dan menyulapnya menjadi hidangan lezat yang mak nyusss... Kalau ada yang tanya, siapa generasi yang akan mewarisi ilmu mereka? Minimal punya hobi yang sama seperti mereka. Eh, bukan sekedar hobi dink, tapi mampu menambah income keluarga atau untuk biaya registrasi misalnya. Wah... ada nggak ya sosok demikian di kampus kita? Ada dong, pengen tau siapa dia? Simak yuh !
            Hiruk-pikuk kegiatan perkuliahan sudah dimulai. Saatnya bangun dari tidur panjang liburan. Aktifitas akan berjalan normal, dari tugas dosen yang beragam, kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang mulai aktif kembali, juga aktivitas lain di luar kampus. Waktu seakan bangkit dan mengejar, hari pun terasa pendek. Tinggalkan kemalasan, prioritaskan waktu seoptimal mungkin, jaga kesehatan. Itu yang dilakukan oleh Ismey Nur Anggaraeni. Mahasiswa STAIN Jurusan Tarbiyah, Prodi PAI. Semester tujuh.
            Disela-sela kuliah juga pengajuan proposal untuk siapkan skripsi, masih sempat tengokin dapur dan segala tetek bengeknya. Memang ya... kalau sudah hobi, nggak ada alasan untuk meninggalkannya. Begitu dengan Ismey, lain lagi dengan Mukhlas, mahasiswa KI (Kependidikan Islam apa Kedokteran Islam?) Dia supplier, distributor, pedagang, dari berbagai jenis makanan ringan seperti lontong, bakwan, mendoan, goreng pisang, goreng tahu (brontak, bahasa mbanyumase),  gado-gado, air mineral, teh manis, juga kopi. Tiap hari sabtu sore dan minggu siang, dia akan terlihat bersama rekannya, Siti Nur Kholifah (5PBA) berjualan di kampus. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti jam kuliah malam, pasti nggak asing lagi dengan mereka.    
Jika ditanya, mau nggak berjualan seperti mereka? Pasti ada yang jawab, “Gengsi lah yaw”, atau ”nggak banget”. Beda dengan mereka, “Dengan berjualan seperti ini, kita jadi tahu kalau mengumpulkan keping-keping rupiah itu nggak mudah.” Wow, tulusnya. Bagi pemula mungkin malu, menawarkan, menunggui, yang sebelumnya harus memasak, meracik juga belanja di pasar, belum lagi harus bangun lebih awal. Pokoknya serentetan proses yang mesti dilalui. Bergelut di dapur sedari bangku kuliah ?! Why not !!!. Koki Rudy aja mulai dari bangku sekolah dasar.    
Hidup itu pilihan. Ketika dikejar kebutuhan, Mahasiswa kreatif (kreatif apa kere lan aktif ) akan menyulap segala sesuatu menjadi uang. Bisa dibilang berjualan karena MOP alias Master of Kepepet pun dijalani. Tuhan juga berfirman yang intinya, tidak akan merubah keadaan seseorang sebelum mereka berusaha untuk beranjak meninggalkan keadaan sebelumnya untuk menjadi lebih baik. Jadi nggak ada harapan terwujud secara instan. Semua butuh proses, dari yang tersukar sampai termudah sekalipun.
Pernah kepikiran nggak sih, menghasilkan uang sendiri minimal untuk kebutuhan domestic pribadi, seperti beli make-up, parfume, lotion de el el. Yeah, meski setiap proposal yang kita ajukan pada orang tua pasti di ACC. Muncul rasa kasihan juga kalau sampai keterusan. Tanggung jawab di pundak mereka juga nggak cuma kita saja. Uang memang bukan segalanya tapi tanpa uang, apa daya kita.
Perlu diingat kalau jatuh bangun adalah fitrah dari perjuangan. Ketika terasa lelah, tak berdaya dan usaha seakan sia-sia, Tuhan tahu betapa keras kita berusaha. Ketika menangis, Tuhan sudah menghitung air mata kita, peluh pun menjadi saksi. Amanah adalah konsekuensi dari tekad. Kita adalah bagian dari dakwah. Ada yang tegar dan ada yang terlempar. Hanya ada satu kata, “kita tidak akan berhenti berjuang!!!” Lantunan indah penuh makna, kobarkan semangat di dada.

Paper Usang



Sedikit sangsi untuk menulis ketika melihat tema yang disuguhkan, “Mahasiswa dan Integritas Kepemimpinan Nasional”. Mencerna makna “Integritas[1]” dalam kamus ilmiah menjadikan suatu langkah tersendiri. Dari sini penulis sadar akan apatisnya[2] diri ini terhadap istilah-istilah popular. Bahkan istilah dalam dunia perpolitikan sendiri. Seperti kata “skandal”[3] yang muncul belum lama ini. Kemudian disusul dengan istilah “Testimoni”[4], “Intervensi”[5] dan istilah baru lain yang memaksa memory otak untuk menyimpan kosakata-kosakata itu. Terkadang ini menjadi skeptis[6] jika dihadapkan pada realita kehidupan yang keras dan harus dijalani.
Terlepas dari itu semua satu yang menjadikan keresahan ketika dihadapkan pada kenyataan hidup di masyarakat, bahwa “Mahasiswa adalah manusia sempurna yang bisa segalanya”. Meski label kehormatan yang disandangkan ini tidak mampu terpenuhi seutuhnya oleh kaum intelektual muda bergelar Mahasiswa. Hingga memunculkan anggapan bahwa mahasiswa dengan gagasan-gagasan birilian pun bisa dihitung dengan jari, apa lagi dengan mereka yang diebut aktifis. Hanya segelintir orang saja. Dari sini, pertanyaan pun muncul, apa orang-orang yang turun ke jalan, yang masih peduli untuk menyuarakan jeritan masyarakat terhadap pemimpin-pemimpin negeri ini juga sedikit ? Apa hanya mereka saja yang berkoar-koar di luar sana bersama segerombol manusia dengan menunjukan papan bertuliskan tuntutan-tuntutan yang ingin dipenuhi pemerintah? Apa hanya itu yang mampu melunakan hati pemerintah hingga menjadikan mereka turun tangan selesaikan permasalahan ?
Terlalu kompleks permasalahan yang dihadapi Bangsa ini. Kasus korupsi yang tak berujung, Pembantaian masal masa lalu, Penghilangan tokoh pada orde baru, Kasus Trisakti, HAM, TKI (Tenaga Kerja Indonesia), bahkan sampai tuntutan kenaikan gaji Presiden pun menjadi sorotan. Seakan semua yang menjadi pusat perhatian hanya masalah-masalah itu dan cenderung bombastis[7]. Penyelesaian pun tak terdeteksi sampai mana, bahkan kasus-kasus baru saling susul-menyusul menutupi kasus lama yang makin tenggelam dari sorotan masyarakat.
 ALNI ( Alangkah Lucunya Negeri Ini) representasi pemberdayaan anak-anak pengamen muncul dengan lakon yang unik gambaran realita kehidupan kota. Film pendek yang menyoroti kehidupan karyawan pabrik sampai eksploitasi bumi pertiwi ini pun ditampilkan.
Satu yang belum terjamah oleh mata kita, durasi mini waduk Wadas Lintang di Wonosobo, Gambar tenggelamnya kaum tani. Hamparan sawah ladang, samudra hijau kehidupan. Pepohonan sang penjaga mata air, air yang mengalir dalam jiwa, alam penjaga keseimbangan. Dalam kehidupan apapun mereka nikmati secukupnya. Menanam, merawat dan menjaga kehidupan. Bulir-bulir padi harapan beranak pinak menjadi lumbung pangan mereka. Hingga pada tahun 1983 datang jaminan yang mereka pun tak paham. Mereka diusir. Nasib mereka ditentukan harga jualnya, Rp 125-Rp 675 per-meter tanah. Kemudian Wadas lintang menjadi bendungan, pembangunan namanya. Air bah membanjir, tanah rumah dan nisan sanak saudara tak lagi nampak, terkubur nan jauh di dasar air bendungan. Anak cucu mereka merantau ke kota, menjadi buruh, pedagang asongan, transmigrasi, bahkan memilih tetap tinggal di bukit terjal nan cadas pun harus siap dengan segala resiko. Di tengah limpahan air yang mereka minum sisanya hasil berebut dengan pinus-pinus perhutani dan terpaksa bekerja sebagai buruh perhutani. Merawat tanah dan tanaman yang tak pernah mereka miliki. Pembangkit listrik hanya untuk industri, tak menyisakan terang bagi mereka. Soal sekolah, SD pun menjadi keberuntungan, ke SMP susah transportasinya, hidup petani yang seakan dipermainkan. Siapa yang mesti mengurus rakyat seperti mereka ? Apa yang harus mereka lakukan? Siapa yang dapat ikut perjuangkan nasib mereka?
Mahasiswa sebagai tumpuan perubahan penentu arah kemana negri ini akan bermuara menjadi harapan besar ibu pertiwi. Kampus, kawah candra dimuka merupakan wahana berproses yang akan membuka mata hati kita. Menatap bagian kecil kelompok manusia dengan segal problema hingga masalah besar yang dihadapi negeri ini. Orientasi bukan sekedar mengais rejeki atau sebagai karyawan setelah usai belajar, melainkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, Negara dan agama. RidhaNya senantiasa turut menyertai langkah  kaki susuri aral yang melintang.
…Fastabiqul khairat…


[1] Integritas : kesempurnaan, kesatuan, keperpaduan, ketulusan hati, kejujuran, tak tersuap.
[2] Apatis : cuek
[3] Skandal : Perkara yang memalukan, perbuatan tercela
[4] Testimony : keterangan, kesaksian
[5] Intervensi : campur tangan
[6] Skeptis : ragu-ragu, sangsi
[7] Bombastis : omong kosong, bualan semata

Rabu, 03 Agustus 2011

Pendekatan Teologis Anti Korupsi



Seperti apa Indonesia saat ini merupakan cetakan dari pelaku kehidupan tempo dulu. Ini tidak akan terlepas dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa dilihat dari seperti apa pola asuh, pola pendidikan juga lingkungan keluarga yang mencetak seorang pribadi. Sedangkan faktor eksternal berupa lingkungan tempat tinggal termasuk kondisi sosial yang terjadi pada para pengisi roda kehidupan di Negara ini.
Jika berbicara moral tentulah banyak permasalahan pelik yang tersandung. Moral atau dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai ajaran mengenai sikap atau tindakan yang dinilai baik maupun buruk. Katakanlah korupsi, yang beberapa tahun ini melambung gaungnya. Muhammad Nazarudin sebagai tokoh yang senantiasa dikejar pun tak jua tertangkap yang sebelumnya ada Jayus sang mafia pajak. Beberapa menyandang komplikasi hukum yang belum jua mendapat penyelesaian yang tuntas. Lantas pada siapakah semua ini disalahkan? KPK, Presiden, pejabat pemerintah, penindak hukum, pelaku, orang tua, pendidikan, lingkungan atau pelaku sendiri?
Persoalan korupsi di Negara ini adalah bukti tidak mapannya dunia pendidikan. Artinya, orang yang bergelar professor, doctor dan gelar tinggi pendidikan pun tidak lepas dari jeratan korupsi. Pendidikan belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencegahan korupsi yang dilakukan alumni pendidikan sendiri. Ternyata institusi pendidikan melahirkan koruptor kelas kakap. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak uang rakyat yang diselewengkan.
Pendidikan agama anti korupsi adalah wahana latihan pengembangan pendidikan berbasis agama yang mampu mmenjawab realitas sosial. Artinya korupsi sekarang ini sudah saatnya dijawab dengan pendekatan teologis. Pendekatan yang dimaksud disini adalah perbuatan yang melanggar norma-norma agama yang sebagaimana tertulis di dalam teks suci.
Ambil contoh dalam agama islam, korupsi adalah perbuatan tercela dan merugikan orang banyak. Kalau menggunakan pendekatan hukum pidana islam, seorang pencuri harus dipotong tangannya. Ini berdasarkan ayat suci yang menyatakan bahwa, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya sebagai  pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah” (Q.S. Al Maidah : 38)
Perilaku korupsi yang tidak hanya menyusahkan orang banyak, membuat pelakunya berhasil menumpuk harta kekayaan dan mendewakan bahkan menjadikan “Tuhan” baru. Artinya mencari kekayaan dengan mengorupsi uang rakyat sama dengan perilaku “muja”. (Sindhunata, kompas, 7/12). Perilaku ini adalah mencari kekayaan dengan cara tidak halal dan ceberung menghasilkan segala cara seperti membodohi sebagian orang, membunuh keluarga atau orang lain demi mendapatkan kekayaan.
Dari kondisi seperti itu, dapat diambil sebuah ijtihad hukum bahwa seorang koruptor wajib dihukum pancung. Hal ini didasarkan kepada pencuri yang dipotong tangannya karena telah merugikan banyak orang dan menyekutukan Tuhan.
Pendidikan agama antikorupsi adalah sebuah cara mencegah semakin kejamnya korupsi di Indonesia. Korupsi di negeri ini sudah sangat meresahkan masyarakat, dan ironisnya malah semakin banyak orang berpendidikan yang tidak mempunyai nurani melakukan korupsi. Ia tidak lagi malu mengembangkan ilmu yang ia sandang, dan ia malah bangga dengan gelar yang disandang pada saat melakukan korupsi. Hal ini tentunya didasarkan kepada tidak adanya aparat yang mencekalnya. Dan apabila dicekal, dia masih mempunyai pasokan dana yang dapat digunakan untuk menyulap pihak aparat. Bukan hanya itu, mereka pun masih bisa wisata, melompat dari satu Negara ke Negara lain.
Pendidikan agama yang selama ini hanya mengajarkan keimanan dan ketakwaan yang kurang menyentuh realitas nyata sudah saatnya diubah menjadi bahasa yang sangat bersentuhan dengan realitas sosial. Misalnya bagaimana sikap beragama kita dalam menghadapi realita kehidupan.
Dengan demikian, pembacaan terhadap teks suci tidak lagi dimaknai sebagai hal yang melangit, akan tetapi lebih diarahkan untuk menjawab persoalan yang membumi. Kalau dahulu teks-teks suci hanya dihafal dan menjadi penghibur disaat sedih, sekarang teks suci menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, teks diposisikan sebagai ilmu yang mampu menjawab persoalan mutakhir. Teks tidak hanya dijadikan sebgai hal untuk melegitimasi setiap kegiatan yang keliru.
Pentingnya pemahaman ilmu dalam menjawab persoalan sosial pernah disinggung Kuntowijiyo (2004). Keprihatinan Kuntowijoyo ini didasarkan kepada banyaknya masyarakat keliru memahami teks. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, Islam hanya dijadikan alat legitimasi dan legalitas semata.
Urgensi pendidikan agama anti korupsi adalah menggugah kesadaran atau alam bawah sadar kita bahwa perilaku korupsi adalah perbuatan bejat yang banyak merugikan orang lain dan melanggar aturan yang telah diwahyukan. Pendidikan agama antikorupsi adalah upaya memahami teks wahyu sebagai ilmu yang dapat menjawab persoalan yang muncul, seperti korupsi. Hal ini dapat diajarkan dalam setiap kelas sejak dari pendidikan dini.



Selasa, 26 Juli 2011

Benarkah Atlantis itu Indonesia ?



 Istilah mitos memang tidak begitu asing di telinga kita. Sebenarnya apa sih yang dimaksud “mitos” itu? Dari kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa mitos adalah cerita tentang dewa-dewa, asal-usul semesta alam atau suatu bangsa yang berhubungan dengan bermacam kekuatan gaib. Lantas mitos seperti apa yang akan kita bahas dalam tulisan ini?
Pernah dengar kata “Atlantis” ? Bagi yang suka membaca pasti tahu buku yang berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” karya Profesor Arysio Nunes dos Santos yang diterbitkan beberapa tahun silam.
Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis dan sangat mengejutkan kita datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalogi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.
Tambah tertarik ketika membaca artikel yang ditulis oleh Profesor Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D. tentang mitos Benua Atlantis yang ternyata adalah Indonesia. Tulisannya mengutip sebuah buku terbitan tahun 2005 ini.
Penelusuran melalui dunia maya menemukan satu promosi penerbitan buku tersebut dengan gambar sampul buku yang sangat menarik dan provokatif. Sampul buku itu menampilkan Kepulauan Indonesia bagian barat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang pernah dikenal sebagai Kepulauan Sunda Besar yang terdiri dari Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan yang dipersatukan oleh paparan luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda.
Jadi Paparan Sunda, atau ketika laut surut pada Kala Pleistosen Akhir menjadi daratan luas disebut dalam dunia ilmiah Geologi internasional sebagai Sundaland. Mungkinkah itu Benua Atlantis yang hilang menurut Profesor Santos? Sungguh membanggakan! Wajar jika kesimpulan Profesor Priyatna diakhir tulisannya bahwa Indonesia yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, harus membuat kita bersyukur, tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia.
Namun banyak ganjalan yang sangat mengganggu dengan pendapat Profesor Santos yang melambungkan nama Indonesia, atau tepatnya Sundaland sebagai Benua Atlantis yang hilang itu. Ganjalan-ganjalan yang berkecamuk dalam pikiran saya akhirnya membawa kepada beberapa situs internet tentang Atlantis. Lalu, fikiran saya terdampar pada sumber awal munculnya mitos Atlantis itu, yaitu dialog Timaeus dan Critias, yang ditulis oleh Plato.
Cerita mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, "Timaeus" dan "Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.
Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.
Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato's Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.
Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.
Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.
Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.
Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai "Heinrich Events".
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali "tidak meyakinkan" untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa. Wallahu’alam bi sowwab|