Sabtu, 18 Juni 2011

Pesantren Modern


A.    PENDAHULUAN
Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal memberikan andil besar dalam dunia pendidikan. Terutama untuk pendalaman ajaran agama, pendidikan akhlak, kedisiplinan, hingga pola hidup seseorang.
Pesantren juga menjadi sekolah tambahan disamping sekolah formal. Ini  menjadikan penawar kegelisahan para orang tua ketika melihat kehidupan di lapangan yang sudah terkontaminasi dengan  westernisasi[1].
Pesantren akhir-akhir ini banyak diminati masyarakat, terutama kalangan yang masih peduli dengan pengajaran yang mendominankan agama. Beberapa faktor yang menyebabkan pesantren sebagai alternative pendidikan adalah sebagai berikut:
  1. Keberadaan system pondoknya, pendidik dapat melakukan tuntunan dan pengawasan secara langsung.
  2. Keakraban hubungan santri dan kiyai sehingga dia bisa memberikan pengetahuan yang hidup.
  3. Pesantren mampu mencetak orang-orang yang dapat memasuki di banyak lapangan pekerjaan.
  4. Kesederhanaan kiyai yang memimpin pesantren menciptakan kegembiraan dan penerangan bagi pada penduduk yang pada umumnya di tingkat ekonomi menengah ke bawah.
  5. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lebih ekonomis yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Maka munculah podok pesantren-pondok pesantren dengan system pembelajaran juga metode yang berbeda dalam penyampaian materi pembelajarannya. Istilah Pesantren Tradisional dan Pesantren Modern seakan menjadikan pembeda dalam pelaksanaan kegiatan juga bahan kajian dalam sebuah pesantren. Dibawah ini akan membahas Pesantren Modern yang diharapkan mampu menambah pengetahuan pembaca.




B.     PEMBAHASAN
  1. PENGERTIAN PESANTREN
Pesantren atau lebih dikenal dengan pondok pesantren menurut M. Arifin berarti suatu lembaga pendidikan agama islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan system asrama (komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui system pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari leadership seorang atau atau beberapa orang kiai dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik[2] serta independen[3] dalam segala hal[4].
Pesantren menurut Lembaga Research Islam, adalah suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pelajaran-pelajaran  agama islam sekaligus tempat berkumpul dan tempat tinggalnya.[5]
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pesantren atau lebih dikenal dengan istilah Pondok Pesantren, merupakan suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran agama islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri ( murid pesantren) yang bersifat permanen.

  1. SEJARAH PESANTREN
Ada perbedaan pendapat mengenai siapa dan dimana pesantren didirikan pertama di Indonesia. Beberapa sumber yang penulis temui menyebutkan diantaranya : Syaikh Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal dengan Syaikh Maghribi dari Gujarat, India sebagai pendiri pondok pesantren pertama di Jawa. Muh. Said dan Junimar Affan menyebut Sunan Ampel atau Raden Rahmat sebagai pendiri pesantren pertama di Kembang Kuning Surabaya. Ada juga yang menganggap Sunan Gunung Jati (Syaikh Syarif Hidayatullah) di Cirebon sebagai pendiri pesantren pertamanya.
Menurut S.M.N. Al Attas, Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai penyiar agama islam pertama di jawa, terutama wilayah Pesisir utara. Akan tetapi karena pesantren yang dia rintis belum jelas sistemnya, maka keberadaan pesantrennya diragukan. Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang tak lain adalah putranya, melanjutkan misi suci perjuangan ayahnya yang kemudian mendirikan pesantren Kembang Kuning Surabaya.
Adapun Sunan Gunung Jati (Syaikh Syarif Hiddayatullah) mendirikan pesantren sesudah Sunan Ampel. Ini didasarkan pada data yang menyebutkan bahwa Sunan Ampel wafat pada 1467 M, sedangkan Sunan Gunung Jati pada tahun 1570 M. Jadi terpaut 103 tahun. Sebagian ulama memandang Gunung Jati sebagai pendiri pesantren pertama di Cirebon, Jawa Barat.
Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakter khusus, system pondok pesantren memunculkan tujuh teori yang menyebutkan bahwa:
1)      Pondok pesantren merupakan bentuk tiruan atau adaptasi terhadap pendidikan Hindu dan Budha sebelum islam datang ke Indonesia.
2)      Model Pondok pesantren berasal dari India.
3)      Model pondok pesantren ditemukan di Baghdad
4)      Pondok Pesantren merupakan perpaduan antara Hindu-Budha (pra-Muslim di Indonesia) dan India.
5)      Podok pesantren berasal dari kebudayaan Hindu-Budha dan Arab.
6)      Pondok pesantren berasal dari India dan orang Islam Indonesia.
7)      Pondok Pesantren berasal dari India, Timur Tengah dan tradisi local yang lebih tua.
Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa sejatinya keberadaan pondok pesantren merupakan upaya pembenahan pendidikan di Indonesia. Kalaupun ada perbedaan pendapat mengenai siapa dan kapan pendirinya, maka bisa dilihat dari tahun kemunculan nama-nama yang sudah dijelaskan di atas. Yang pasti kesemuanya itu berdiri di daerah-daerah yang berbeda. Ini menunjukan bahwa mereka lah yang mendirikan dan memunculkan istilah pesantren di daerah itu.

  1. TUJUAN PESANTREN
Tujuan umum pesantren adalah membina warga Negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan agama.
Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut:
a.       Mendidik siswa/santri anggota masyarkat untuk menjadi seorang muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga Negara yang berpancasila.
b.      Mendidik siswa/santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah islam secara utuh dan dinamis.
c.       Mendidik siswa/santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggungjawab kepada pembangunan bangsa dan Negara.
d.      Mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/masyarakat lingkungannya).
e.       Mendidik siswa/santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sector pembangunan, khususnya pembangunan mental-spiritual.
f.       Mendidik siswa/santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan social masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa.

  1. KEPEMIMPINAN PESANTREN
Kepemimpinan pesantren modern memiliki perbedaan dengan pesantren pada umumnya. Di pesantren modern, kepemimpinan individual kiyai tergantikan dengn kepemimpinn kolektif yayasan.
Kyai sebagai sosok karismatik, pengasuh sekaligus pemilik pesantren juga sebagai sumber pengetahuan agama tidak lagi mewariskan pesantrennya pada keturunannya, melainkan kepada yayasan. Kepemimpinan Yayasan menjadi pilihan karena disamping untuk mengokohkan pesantren itu sendiri, setidaknya pemimpin yang berkompeten dan militan akan menjadikan pesantren lebih maju.

  1. SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN
Pesantren adalah system pendidikan yang melakukan kegiatan sepanjang hari. Dimana santri tinggal dalam suatu asrama khusus bersama kyai, guru dan senior mereka. Sehingga hubungan antara santri-guru-kiyai sangat intensif tak sekedar hubungan formal saja.

  1. KURIKULUM DI PESANTREN
Dalam bidang kurikulum, pesantren mengalami transformasi. Pada mulanya pesantren hanya mengajari inti ajaran islam berupa tri komponen ajaran dasar islam yaitu : iman, islam dan ikhsan (doktrin, ritual dan mistik). Kemudian berkembang dengan penyajian disiplin ilmu seperti : Shorof, Nahwu, Fiqih, Tafsir, Ilmu Kalam, Tasyawuf. Kemudian kurikulum pesantren bertambah luas tetapi masih dalam rincian dari materi dasar dengan beberapa tambahan seperti : fiqih dengan ushul al fiqih dan qawaid al fiqih, hadis dengan mustalah hadis, bahasa arab dengan nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’ dan arudh, tarikh, mantiq, tasawuf, akhlak dan falak.
Pada pesantren modern memasukan ilmu-ilmu umum seperti : Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, Teknik Pertanian, Perkebunan, Perunggasan, Perikanan, Bahkan Seni dan Keterampilan. Penambahan ini dipengaruhi oleh system pendidikan nasional dan tantangan zaman yang harus dihadapi santri setelah selesai menempuh pendidikan di pesantren.

  1. METODE PENDIDIKAN DI PESANTREN
Mengenai metode, pesantren pada awalnya menggunakan metode tradisional seperti : sorogan, wetonan (bandongan), muhawarah, madzakarah dan majelis ta’lim. Pesantren saat ini yang tergabung dalam Rbithah al-Ma’ahid dalam muktamar ke-1 pada tahun 1959 memutuskan metode : tanya jawab, imla, muthala’ah, proyek, dialog, karyawisata, hafalan, sosiodrama, widyawisata, problem solving, pemberian situasi, pembiasaan, dramatisasi, reinforcement, stimulus-respon dan system modul.

C.     KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat diketahui betapa pentingnya pendidikan di Pesantren. Terutama bagi mereka-mereka yang ingin mempelajari lebih dalam apa itu islam. Metode pendidikan yang diterapkan sebagai representasi eksistensi pondok menunjukan pembeda dengan pondok yang lain menjadikan ciri khas tersendiri. Tak sekedar itu, akhlak yang baik bagi para santri juga diharapkan terbentuk setelah lama menjalani proses pendidikan di pesantren.


[1] Westernisasi : Proses penyerapan kebudayaan atau adat-istiadat (gaya hidup) barat oleh orang timur, karena dibawa oleh orang barat yang datang ke timur atau orang-orang timur yang pernah menetap di negeri barat.
[2] Karismatik : berwibawa, berpengaruh
[3] Independen : berdii sendiri
[4] Zamakhasari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiyai, (Jakarta:LP3ES, 1984), h.37
[5] Kuntowijiyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan 1991), h.247

Minggu, 05 Juni 2011

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM


a.      Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab yang disebut Tarih (( التاريخ, yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedangkan menurut istilah berarti keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada.[1]
Kemudian yang disebut dengan ilmu tarih adalah suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang terjadi di kalangan umat[2].
Dalam bahasa Inggris sejarah disebut history, yaang berarti pengalaman masa lampau daripada umat manusia, the past experience of mankind[3].
Menurut Sayid Quthub, sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu dan pengertian mengenai hubungan-hubungan yang nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat[4].
Berdasarkan dari pengertian sejarah diatas, maka dapat dirumuskan pengertian tentang Sejarah Pendidikan Islam (Tarihut Tarbiyah Islamiyah) sebagai berikut[5] :
1.      Keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai dengan masa sekarang.
2.      Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan oprasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.
Dikutip dari buku sejarah peradaan Islam editor Siti Maryam, dkk. Pengertian sejarah secara etimologi berasal dari kata bahasa arab ”syajarah”, artinya ”pohon kehidupan”, makna sejarah paling sedikit memiliki dua konsep terpisah yaitu sejarah yang tersusun dari serangkaian peristiwa masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia dan sejarah sebagai suatu cara yang dengannya fakta-fakta diseleksi, diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisis[6].
Sedangkan pengertian dari pendidikan Islam yaitu menurut Dr. Yusuf al-Qardhawi ”pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam dan perang dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya , manis dan pahitnya”[7].
Pendidikan Islam menurut DR. H. Maksum M yaitu segala proses pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Quran, sunnah Nabi, perkataan dan perbuatan sahabat, ijtihad para ulama. Untuk membentuk kepriadian muslim yang tangguh dan mampu mengatasi masalah-masalah dikehidupannya dengan cara Islam, sehingga tercapai tujuan akhir yaitu bahagia dunia dan akhirat dengan Ridho Allah[8].
Dilihat dari pengertian sejarah dan pendidikan Islam diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa. Sejarah pendidikan Islam adalah sejarah atau kejadian pada masa lampau yang terjadi pada zaman Rasulullah yang muncul dan berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri[9], yang kemudian perkembangan selanjutnya pada masa Khulafaur Rasyidin, Bani Ummayah dan Abbasyiah sampai jatuhnya kota bagdad dan lenyapnya khalifah Islam yang terakhir di Istambul pada tahun 1924[10].

b.     Manfaat Sejarah Pendidikan Islam
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia[11]. Oleh sebab itu kegunaan sejarah pendidikan Islam meliputi dua aspek, yaitu kegunaan yang bersifat umum dan kegunaan yang bersifat akademis.
1.    Bersifat Umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai kegunaan sebagai keteladanan. Seperti tersirat dalam firman Allah, yaitu :
Al Ahzab (33:21)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: “Demi sesungguhnya, Rasulullah itu adalah contoh telada yang baik bagi kamu sekalian”
Ali Imran (3:31)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
            Artinya: “Katakanlah olehmu (Muhammad), jika kamu sekalian cinta kepada Allah, maka hendaklah ikut akan daku, niscaya Allah cinta kepada kamu”.
Al A’raf (7:158).
وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ....
Artinya :” Dan hendaklah kamu mengikut akan dia (Nabi Muhammad SAW) supaya kamu mendapat petunjuk”.

2.    Bersifat Akademis, kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan pembendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi. Dalam syllabus Fakultas Tarbiyah IAIN, kegunaan studi sejarah pendidikan Islam diharapkan dapat:
1.    Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai sekarang.
2.    Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guan memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
3.    Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.

c.      Obyek Sejarah Pendidikan Islam
Sejarah biasanya ditulis dan dikaji dari sudut pandang suatu fakta atau kejadian tentang peradaban suatu bangsa. Maka objek Sejarah Pendidikan Islam mencangkup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik informal, formal maupun nonformal. Dengan denikian akan diperoleh apa yang disebut “sejarah serba objek”[12].




d.     Metode Sejarah Pendidikan Islam
Mengenai metode yang dipergunakan dalam rangka penggalian maupun penulisan Sejarah Pendidikan Islam itu sendiri ada dua macam yaitu metode mencari informasi atau data dan metode penulisan sejarah itu sendiri.
Dalam mencari informasi atau data metode yang digunakan ialah:
1.    Metode Lisan, dengan metode ini pelacakan suatu objek sejarah dengan menggukan interview.
2.    Metode observasi, dalam hal ini objek sejarah diamati secara langsung.
3.    Metode dokumenter, metode ini berusaha dengan mempelajarinya secara cermat dan mendalam segala catatan dan dokumen tertulis.

Sedangkan dalam penulisan sejarah pendidikan islam metode yang digunakan ialah[13]:
1.      Metode Deskriptif
Ialah bahwa ajaran-ajaran Islam, sebagai agama yangn dibawa Rasulullah SAW dalam Quran dan hadis, terutama yang berhubungan dengan pengertian pendidikan, harus diuraikan sebagaimana adanya, dengan maksud unutk memahami makna yang terkandung dalam ajaran tersebtut.
2.      Metode Komparatif
Dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam itu dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam kurun-kurun serta di tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu, sehingga diketahui pula adanya garis yang tertentu yang menghubungkan pendidikan Islam dengan pendiidkan yang dibandingkan.
3.      Metode dengan pendekatan Analisi-Sintesis
Analisis artinya secara kritis membahas, meneliti istilah-istilah, pengertian-pengertian yang diberikan oleh Islam, sehingga diketahui adanya kelebihan dan kekhasan pendidikan Islam. Dan sintesis dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan yang diambil guna memperoleh satu keutuhan dan kelengkapan kerangka pencapaian tujuan serta manfaat penulisan sejarah pendidikan Islam.



e.      Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam
Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam 3 periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern[14]. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi lima masa, yaitu:
1.      Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M);
2.      Masa khalifah yang empat (632-661 M);
3.      Masa kekuasaan Umaiyah di Damsyik (661-750 M);
4.      Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M );
5.      Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M dampai sekarang.

Selanjutnya pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam ini, akan di bagi kedalam 5 periode, yaitu:
1. Periode pembinaan pendidikan Islam, yang berlangsung pada Zaman Nabi Muhammad.
2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam.
3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam.
4. Periode kemunduran pendidikan Islam.
5. Periode pembaharuan pendidikan Islam.

Pembagian periodesasi dalam pendidikan Islam tersebut , dimaksudkan hanyalah sebagai usaha untuk memudahkan urutan pembahasan saja, karena pada hakikatnya suatu peristiwa sejarah selalu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa lainnya, baik yang sebelum, yang semasa maupun yang sesudahnya[15].



[1] Dra. Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, Bumiaksara, Jakarta, 2010, hal. 1
[2] H.Munawar Choli, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW. Bulan Bintang, Jakarta, 1969, hal.15
[3] As Hornby, Oxford Advences Learber’s Dictionary of Current English
[4] Sayyid Quthub, Konsepsi Sejarh dalam Islam, Yayasan Al-Amin, Jakarta, t.t., hal.18
[5] Dra. Zuhairini, dkk. Opcit, hal. 2
[6] Zianuddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Mizan, Bandung, 1986, hal. 208.
[7] Yusuf Al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Bana, Bulan Bintan, Jakarta, 1980, hal. 39.
[8] Siti Maryam, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, hal. 4.
[9] Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangan, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, hal.7.
[10] Prof. DR. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya Agung, Jakarta, 1992, hal. 3.
[11] H. Munawar Cholil, opcit, hal. 20-21
[12] Drs. Rachmat Imam Santoso, Penulisan Sejarah Pendidikan Islam, Makalah Diskusi, IAIN Sunan Ampel Malang, 1975
[13] Dra. Zuhairini, dkk., opcit, hal. 4.
[14] Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan gerakan, Bulan Bintang, Jakata, 1975, hal. 11.
[15] Dra. Zuhairini, dkk.., opcit, hal. 7-8